Seorang murid mengadu kepada gurunya:
“Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”
Sang Guru menjawab dengan tenang:
“Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”
“Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: Sedikitnya taufiq (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”
Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari “kekerasan hatinya dan kematian hatinya”
Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di harapannya..?
Sadarkah engkau tidak diberikan rasa khusyu’ dalam shalat..?
Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an, padahal engkau mengetahui firman Allah: “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”. Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya…
Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang…
Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..??
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..???
Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya..???
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..???
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???
Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..???
Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..???
Semua bentuk pembiaran ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya…
Waspadalah wahai anakku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban.
Karena hukuman yang paling ringan dari Allah terhadap hambaNya ialah: “Hukuman yang terasa” pada harta, atau anak, atau kesehatan.
Sesungguhnya hukuman terberat ialah: “Hukuman yang tidak terasa” pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa.
Karena itu wahai anakku, Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…
(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-‘Aidan di Masjidil Haram pada 22 Rajab 1437)
sayangnya ayah pada putrinya itu sepenuh jiwa |
tak mampu dilukis atau diwakilkan kata-kata
bagi ayah, senyum putrinya itu penghapus murka dan letih lelah |
airmata putrinya jadi siksa baginya dan sedih putrinya jadi musibah
seorang ayah punya sejuta impian untuk putrinya |
walau harus mengorbankan dirinya dia selalu rela
bagi ayah pelukan ikhlas putrinya menyambutnya |
bisa jadi lebih berarti dan lebih indah dari bahagia
tidakkah engkau lihat ayah saat menikahkan putrinya |
di hadapan ramai bahkan ia tak dapat tahankan airmata
dipandanginya putrinya dalam-dalam dengan tatapan mengharu biru |
terbayang jelas semua kenangan mulai putrinya lahir hingga saat itu
segala bentak dan tawa, segala bahagia dan kecewa, semuanya |
mendadak terpampang jelas, melekat tak mau lepas, semuanya
bertahun-tahun ingatan itu menjadi satu, mendadak ayah sesalkan |
tentang apa yang tak sempat ia lakukan, tentang apa yang ia lewatkan
dan saat itu dia menyadari dalam hidupnya sampai masa ini |
tak ada pelepasan yang lebih berat melebihi hari ini
mungkin seorang ayah takkan pernah siap untuk menikahkan anaknya |
takkan pernah siap untuk melepaskan bagian dari darah juga jiwanya
bila bukan karena perintah Allah dan sunnah Rasulullah |
tentu selama-lamanya ia ingin bersama putrinya
tapi putrinya juga harus bercerita, harus berkeluarga |
dan melaksanakan ajaran ayahnya dalam realita nyata
kini tangan lelaki lain yang diridhai putrinya sedang ia genggam |
dan hati sang ayah masih gundah, matanya terpejam
yang ayahnya pikirkan |
"akankah lelaki ini tepat bagi putriku? akankah ia bisa menjaga putriku sebagaimana aku?"
yang ayahnya pikirkan |
"akankah lelaki ini memperlakukan putriku seperti aku? menyayanginya tanpa syarat, mengajarinya tanpa penat?"
yang ayahnya pikirkan |
"akankah lelaki ini menyayangi putriku seperti aku? rela berkorban seperti aku pada putriku?"
yang ayahnya pikirkan |
"adakah lelaki ini mencintai Allah diatas segala-galanya? adakah dia mampu mengawal putriku menuju surga Allah?"
seribu tanya berlanjut, dan mungkin tiada jawaban |
sebagaimana kasih seorang ayah pada putrinya, yang mungkin takkan pernah terjelaskan
bila ada yang paling berhak untuk dimintai izin akan anaknya |
maka yakinlah itu jelas ayahnya, pasti ayahnya!
The Rocket is a message
Friday, July 11, 2014 at 11:36PM Gilad Atzmon
By Gilad Atzmon
The Rocket is a message"
Israelis!
You are on stolen land!
You took our houses, villages, cities, fields and orchards.
You pushed us into the desert.
You surrounded us with barbed wire.
You starve us and you kill us simply to suit your political ambitions.
So this rocket is a message to you all. Think about us and then look at yourself in the mirror. Enough is enough!’
For more than six decades the Israelis have dismissed this message. They surrounded themselves with ghetto walls and have sealed their skies with an Iron Dome. However, with Tel Aviv now under attack, Israel and Israelis have been confronted with their original sin.
Antara ‘Rakyat’ dan ‘Publik’: Politik Komunikasi Pemilu 2014
Antara ‘Rakyat’ dan ‘Publik’: Politik Komunikasi Pemilu 2014
SETELAH perang dunia pertama (1914-1918), ada harapan besar
untuk perubahan di Italia. Melihat suksesnya kaum pekerja di Rusia
menggulingkan kekejaman rezim Tsar, rasa optimisme menjalar dalam
semangat rakyat kelas bawah, bahwa perubahan yang sama akan terjadi di
Italia. Pertentangan antara kelas penguasa dan rakyat meningkat sengit,
sementara rakyat aktif bergerak dengan berkumpul, mogok dan demonstrasi.
Di tengah intensitas ‘kekacauan’ ini, kelas penguasa bangkit dan,
dengan memanfaatkan sentimen nasionalisme, berjanji akan memulihkan
ketertiban dan keamanan dan mengembalikan kemakmuran bangsa. Mereka
menang dan berhasil menempatkan rezim fasis di bawah kepemimpinan Benito
Mussolini. Masyarakat umum dan aktivis, yang tadinya aktif,
terkooptasi. Ada yang diintimidasi para penguasa, ada juga yang terpikat
oleh daya tarik retorika fasis. Dari balik penjara, Antonio Gramsci,
salah satu aktivis yang menentang penguasa, menghabiskan waktunya
memikirkan kegagalan pergerakan rakyat ini. Mengapa dan bagaimana,
Gramsci bertanya, pergerakan yang sangat berpotensi ini bisa digagalkan
oleh kelas penguasa?
Pemilu 2014 di Indonesia diliputi perasaan yang mirip dengan masa ‘kekacauan’ yang dihadapi Italia, tepat sebelum rezim Mussolini berkuasa. Setelah tumbangnya rezim Suharto enam belas tahun silam, semangat perubahan reformasi mulai diliputi rasa pesimis. Sementara wajah-wajah Orde Baru kembali bermunculan dalam panggung politik bersekutu dengan sebagian para elit reformasi. Sementara itu, sebagian mantan aktivis 1998 yang dulu menentang orde baru berbondong-bondong berbalik mendukung persekutuan ini. Bagaimana kita memahami konfrontasi politik antara berbagai kelompok—pro Prabowo, pro Jokowi dan Golput—sebagai potret masyarakat kita saat ini dan bagaimana pemahaman ini membantu kita menjelaskan kebutuhan pergerakan sekarang?
Enam dari total sembilan tahun masa pemenjaraannya,Gramsci menghabiskan waktunya untuk bergelut dengan pertanyaan di atas. Konsep ‘hegemoni’ adalah salah satu buah pikiran yang ia kembangkan dalam Prison Notebooks untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hegemoni, menurut Gramsci, adalah kepemimpinan politik berdasarkan konsensus (consent), atau persetujuan, mereka yang dipimpin. Konsensus ini didapatkan dengan menyebarkan dan mempopulerkan pandangan kelas penguasa, membuatnya sebagai nalar wajar (common sense) dan mereproduksikannya kembali sebagai kewajaran dan kalau bisa kebutuhan masyarakat itu sendiri. Peran masyarakat sipil—seperti gereja/mesjid, sekolah, seni dan media—sangat besar dalam proses ini. Karena kepemimpinan bergantung pada konsensus masyarakat, segala bentuk kekerasan berupa kekuatan militer dan polisi diminimalisir. Kekerasan negara hanya akan dibutuhkan ketika melalui konsensus hegemoni penguasa tidak lagi dapat dicapai. Dengan konsep ini, Gramsci berhasil menjelaskan bahwa, meskipun didukung oleh kepentingan elit yang bejat, pemikiran-pemikiran fasis justru populer karena disyiarkan dengan kata-kata manis yang seolah masuk akal.
Mesin penggerak hegemoni adalah propaganda. Propaganda merupakan alat komunikasi penting yang membentuk opini publik. Propaganda membentuk sikap, tindakan dan pikiran masyarakat. Medium utamanya adalah media massa. Bentuk propaganda bermacam-macam, ada mitos, simbol, retorika dan lain lain (lihat Panduan Analisis Propaganda untuk Pemilu 2014). Propaganda seringkali juga menggunakan ‘kebenaran’ dan ‘ilmu pengetahuan’ dengan memanipulasinya atau dengan menggunakan kebenaran sepihak. Contoh kasus dalam pemilu 2014 adalah survei-survei polling yang tidak jelas akurasi datanya. Oleh karena itu, ‘fitnah’ dan ‘kampanye hitam’ hanyalah sebagian kecil teknik yang digunakan dalam propaganda. Untuk memahami pertarungan hegemoni di Indonesia, kita akan memahami propaganda tim Prabowo vs. tim Jokowi dan menjelaskan fenomena sosiologi macam apa yang ada dalam masyarakat kita.
Kita mulai dengan propaganda tim Prabowo. Slogan retorika tim Prabowo adalah ‘selamatkan Indonesia’. Walaupun tidak jelas Indonesia harus ‘diselamatkan’ dari ‘siapa’/’apa’?, tetapi slogan ini justru efektif untuk melancarkan dua alat propaganda lainnya. Pertama adalah ‘pembentukan ‘musuh’ bersama’. Slogan ini cair, artinya di depan kaum Islamis garis keras seperti FPI, musuh yang dibuat adalah Muslim Syiah, Ahmadiyah, orang Cina, kaum Nasrani; di depan ‘rakyat miskin’, musuh adalah pengusaha neoliberal, ‘para pencuri uang rakyat’ dll; sementara di depan kaum nasionalis, musuh yang dibayangkan adalah segala bentuk ancaman dari luar/asing. Konstruksi ‘musuh’ ini ampuh untuk melancarkan alat propaganda kedua, yaitu rasa urgensi (sense of urgency). Perasaan untuk segera bertindak ini tidak diarahkan berdasar pada riset yang matang dan kalkulasi langkah strategi yang jelas, tetapi lebih oleh ‘rasa takut’ bahwa ada bahaya laten menghadapi bangsa. Seperti kebanyakan alat propaganda tradisional lainnya, propaganda ini beroperasi dengan mengeksploitasi emosi masyarakat dan bukan membangun cara berpikir yang logis.
Sentimen yang muncul dari pembentukan rasa takut secara kolektif ini sejalan dengan citra yang dibangun tentang Prabowo. Karena ada ‘musuh’, maka kita butuh pemimpin militeristik yang ‘kuat’, ‘tegas’, ‘berani’ dan ‘agresif’. Kebutuhan ini pun diadopsi para simpatisan Prabowo, salah satunya dalam lirik lagu Ahmad Dhani berikut:
‘Kita butuh pemimpin yang kuat
Kita butuh pemimpin yang tegas
Yang bisa bawa bangsa ini menjadi bangsa nomer satu.
Sekarang atau tidak sama sekali
…
Inilah satu2nya kesempatan kita untuk jadi
Bangsa yang besar dan ditakuti
Bangsa yang disegani dihormati’ …
[Suara Prabowo] ‘Kalau bukan sekarang kapan lagi’
Citra ‘ksatria militer ideal’ pun dibangun dengan simbol-simbol tradisional. Prabowo menggunakan burung garuda untuk melekatkan ide nasionalisme, sementara kuda dan keris digunakan untuk memainkan nostalgia ksatria militer Jawa. Rasa ‘aman’ yang ditawarkan dengan simbol-simbol ini bekerja melalui pembentukan ide pemimpin yang patriotik, militeristik yang akan ‘memenangkan’ Indonesia menjadi ‘bangsa yang ditakuti, disegani dan dihormati’ melalui penaklukan ‘musuh’. Tentu saja mitos yang dibangun ini dilakukan dengan memanfaatkan latar belakang militer Prabowo, tetapi pembangunan mitos sebagai ksatria militer ideal ini pun berguna untuk menutupi karir buruknya di TNI. Bagaimana pun, mitos pemimpin yang jelas tidak realistis ini mengeksploitasi sentimen sebagian masyarakat yang merasa bahwa penyelesaian masalah bangsa yang begitu kompleks akan selesai dengan datangnya ‘ratu adil’.
Citra Prabowo sebagai ‘ratu adil’ ini dibangun dengan teknik-teknik estetika visual yang khas dalam iklan-iklan kampanyenya yang mengingatkan kita dengan teknik yang juga digunakan dalam propaganda Orde Baru. Teknik yang pertama adalah dengan membangun sosok narsisistik, sosok ‘aku’. Perhatikan hampir semua iklan TV Prabowo yang disponsori partainya dipenuhi oleh foto, aktivitas, cuplikan suara dirinya. Berbagai aktivitas masyarakat—petani, guru, nelayan—hanya menjadi latar belakang pembangunan sosok ini. Teknik kedua adalah pengambilan gambar dan voice-over yang dibiarkan impersonal dan berjarak, seakan-akan kita semua sedang menyaksikan Prabowo tanpa ikut di dalamnya. Bagi masyarakat yang terbiasa dengan struktur kepemimpinan hirarkis dan vertikal, pembuatan jarak ini berfungsi untuk membangun karakter pemimpin yang ‘sakral’, turun dari langit dan tidak sejajar dengan kawula rendahan.
Contoh pencitraan visual sosok ‘aku’ dari salah satu iklan kampanye Prabowo/Gerindra.
Yang paling menarik dari propaganda tim Prabowo adalah, selain mengadopsi pencitraan tubuh Sukarno (lihat tulisan ‘Dua Tubuh Sukarno‘), Prabowo juga mengadopsi pencitraan Suharto. Selain menggunakan teknik estetika visual ala Orba yang sudah dijelaskan di atas, dalam orasi-orasinya dan juga debat presiden yang pertama, Prabowo melafalkan akhiran ‘kan’ dengan ‘ken’ yang khas Suharto, seperti ‘mengandalken’ dan ‘inginken’ (cat: Sukarno juga melafalkan ‘kan’ dengan ‘ken’, tapi pelafalan ini lebih lekat dengan pencitraan Suharto yang dibangun lewat pidato-pidatonya di televisi). Kita tahu bahwa kedua presiden memiliki sejarah politik kepemimpinan top-down, Sukarno dengan demokrasi terpimpinnya sementara Suharto dengan kediktatorannya. Mitos sosok ‘pemimpin kuat’—dengan orasi yang berapi-api dan pemimpin tangan besi—diadopsi, digabungkan dan dibuat untuk membangun nostalgia romantisme masa ‘kejayaan’ Indonesia—melawan koloni di jaman Sukarno dan sukses pembangunan di jaman Suharto.
Salah satu fungsi media adalah menetapkan agenda (agenda-setting), artinya melalui media para propagandis dapat mengalihkan perhatian masyarakat pada isu tertentu, sementara isu lain sengaja ditutupi dan diabaikan. Dalam kampanyenya, tim Prabowo fokus pada pencitraan Prabowo sebagai pemimpin yang kuat dan tegas. Tidak heran kalau seorang simpatisan ditanya mengapa pilih Prabowo, jawabannya adalah ‘karena dia pemimpin yang kuat dan tegas’. Dari kacamata politik komunikasi, ini brarti propaganda Prabowo sukses. Tapi Propaganda berdasar pembangunan citra dan bukan ide akan menjadi bumerang bagi Prabowo sendiri. Sebenarnya bagaimana Prabowo akan memimpin, apa maksud ‘kuat dan tegas’ dan apa rencana Prabowo untuk Indonesia? Untuk itu mari kita membongkar visi-misi tertulisnya.
Visi misi tim Prabowo sangat pendek—8 halaman lebih sedikit. Isinya berupa daftar program-program yang akan dilakukan dan tidak ada penjelasan kenapa program a dan b, misalnya, penting untuk dilakukan. Saya membatasi analisis saya hanya pada pertanyaan berikut: bagaimana tim Prabowo membayangkan kita, yang dipimpin? Dan bagaimana rencananya dalam berkomunikasi dengan kita?
Strategi pertama saya adalah dengan melihat pilihan katanya. Tim Prabowo dalam visi misinya menggunakan kata ‘rakyat’ 23 kali, kata ‘bangsa’ 11 kali dan kata ‘publik’ 1 kali. Selain itu, digunakan terminologi teknis seperti: ‘penduduk’, ‘si miskin’, ‘si kaya’, ‘angkatan kerja’, ‘pekerja’, ‘dunia usaha’, ‘pedagang kecil’, ‘buruh’ ‘orang kaya’ dan ‘kelas menengah’. Terminologi ini adalah istilah teknis karena penggunaannya lebih bersifat pengelompokan berdasar penghasilan maupun tipe pekerjaan, artinya keduanya berhubungan langsung dengan proyek ekonomi. Yang menarik perhatian saya justru penggunaan kata ‘rakyat’. Kata ‘rakyat’ sudah sejak dulu digunakan para pemimpin untuk mengacu pada ‘yang dipimpin’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), ‘rakyat’ berarti ‘penduduk suatu negara’, tapi ia juga bisa berarti ‘orang kebanyakan’, ‘orang biasa’ dan ‘bawahan’. Kata ‘rakyat’ pun sering digunakan untuk memberi makna bahwa seorang pemimpin ketika ia ingin sejajar dengan rakyat dia akan ‘merakyat’, kalau dia ingin ‘pro-rakyat’ dia akan mengaplikasikan ‘ekonomi kerakyatan’. Namun, dalam sejarahnya, kata ‘rakyat’ pun memiliki makna implisit yang hirarkis di mana rakyat adalah massa yang pasif: rakyat di bawah; pemimpin di atas, rakyat manut; pemimpin mengayomi, rakyat dicerdaskan; pemimpin mencerdaskan. Hubungan patriarkal dan infantilisasi ‘rakyat’—pemimpin sebagai bapak dan rakyat sebagai anak—terlihat dengan jelas dalam lagu ‘Bapak Kami Soeharto‘ berikut ini yang diciptakan Titiek Puspa di tahun 1990an di masa rezim Suharto:
Sujud kami bagimu yang esa
Terima kasih atas karunia
Sandang, pangan, pembangunan
Kau limpahkan bagi negri Indonesia
Sorang bapak yang telah kau cinta
Tuk memimpin negeri tercinta
Wibawanya dan senyumnya
Memberi ceria wajah Indonesia
Kepadamu Bapak kami Suharto
Terima kasih dari rakyat semua
Di belakangmu kami siaga
Demi kejayaan Indonesia
Kepadamu bapak kami Suharto
Terima kasih dari rakyat semua
Di dadamu kami sembahkan
Bapak pembangunan Indonesia
Analisis kedua yang saya lakukan adalah mencari program konkret dalam visi misi Prabowo tentang bagaimana negara akan berkomunikasi dengan warga negara dan apakah komunikasi dua arah ini dianggap perlu dalam proses bernegara. Hasilnya, tidak saya temukan program komunikasi bernegara yang spesifik dalam visi misi Prabowo. Seperti pemerintahan sebelumnya, komunikasi hanya dipandang dalam kacamata instrumentalis, salah satunya dalam hal pengembangan ‘industri nasional’. Alat transportasi (I.5 dan VI.2) yang merupakan infrastruktur komunikasi fisik, misalnya, yang penting dalam kontak komunikasi dan interaksi antar setiap manusia dalam sebuah negara hanya dilihat sebagai kebutuhan perekonomian dibanding kebutuhan sosial pembangunan karakter warga negara. Begitu pula teknologi komunikasi sosial hanya mendapat perhatian sekilas dalam hubungannya sebagai ‘instrumen’ komunikasi dalam konteks ekonomi atau birokrasi (I.8.b, II.6.8. Dan VI.6) dan bukan untuk kebutuhan sosial, misalnya: ‘Meningkatkan keharmonisan hubungan industrial dengan jalan memperbaiki koordinasi dan komunikasi antara pekerja, dunia usaha dan pemerintah’ (I.11.b.)—walaupun kita tahu permasalahan yang dihadapi kelas pekerja bukan masalah ‘miskomunikasi’ semata. Pandangan terhadap komunikasi yang ‘instrumentalis’ ini mengimplikasikan pandangan yang juga ‘instrumentalis’ pada masyarakat.
Lalu, bagaimana dengan propaganda tim Jokowi?
Kampanye tim Jokowi bisa dibilang menarik karena mereka menggunakan teknik yang sama sekali baru dan tidak menggunakan teknik tradisional yang biasa dilakukan dalam kampanye-kampanye presiden sebelumnya. Tekniknya fokus pada pembangunan komunitas. Slogan kampanyenya misalnya, ‘Indonesia hebat’ (atau ‘Jakarta baru’ di masa pencalonan gubernur), membangun rasa bangga dan ‘mandiri’ yang juga merupakan bagian dari visi misi tertulisnya. Simbol Jokowi yang paling dikenal mungkin adalah baju kotak-kotak merah, yang menjadi populer ketika dia mencalonkan diri menjadi gubernur Jakarta dua tahun lalu. Baju kotak-kotak memiliki kesan tidak formal dan santai jadi efektif dalam memikat anak-anak muda (apalagi di antara anak muda perkotaan, baju kotak-kotak identik dengan kaum hipster). Jokowi juga identik dengan kemeja putih polos dengan lengan tangan dilipat ke atas, sehingga ia sering dianggap mengidentifikasi diri dengan kaum pekerja—bukan kelas berjas dan berdasi—dan membuat citra sosok kelas bawah yang sederhana.
Iklan TV kampanye Jokowi juga tidak memunculkan foto maupun aktivitas Jokowi, kecuali, dalam beberapa iklan, Jokowi muncul diakhir iklan untuk mempromosikan partainya. Yang lebih menarik lagi adalah penggunaan kata ‘kita’ dalam voice-over beberapa iklan, salah satunya ini:
‘Kita ingin pemimpin jujur
Kita ingin pemimpin bersih
Kita ingin pemimpin sederhana
Tapi
Siapkah kita dipimpin untuk menjadi jujur?
Siapkah kita dipimpin untuk menjadi bersih?
Siapkah kita dipimpin untuk menjadi sederhana?
Bersama pemimpin yang lahir dari rakyat?
Kita siap menjadi Indonesia sebenarnya.
Jokowi-JK adalah kita.’
Penggunaan kata ‘kita’ memberikan rasa inklusif bagi penonton. Hubungan antara Jokowi dan penonton jadi tidak berjarak dan lebih personal. Hubungan pemimpin dan yang dipimpin pun dibuat kooperatif—ada kerjasama dua arah. Ini sesuai dengan orientasi kampanyenya yang berorientasi pada pembentukan komunitas tadi. Tidak heran kalau Jokowi juga mempopulerkan aktivitas ‘blusukan’ yang juga menjadi simbol propaganda Jokowi. Dalam blusukan, jokowi membuat politik komunikasi yang dua arah—saling mendengar dan memberi masukan, dan membentuk hubungan yang personal dengan calon pendukung. Politik komunikasi dua arah seperti ini memungkinkan masyarakat menggunakan kemampuannya untuk menjadi ekstensi propaganda, dengan menjadi relawan, ikut kampanye dll. Tidak heran kalau dukungan kepada Jokowi banyak bermunculan dengan turunnya masyarakat ke jalanan dengan menjadi relawan, membuat radio komunitas Jokowi-JK, membuat selebaran/koran (seperti koran Bakti), membuat kampanye lewat blog, twitter, facebook, membuat lagu simpatisan (seorang kawan menemukan lebih dari 60 lagu di youtube yang dibuat oleh masyarakat umum untuk dukung Jokowi-JK), dan, yang lebih penting lagi, pendanaan massal untuk kampanye (crowdfunding).
Dengan membangun rasa komunitas dan hubungan kerjasama horisontal, tim Jokowi berhasil mengorganisir masyarakat dan merangsang munculnya aktivitas-aktivitas dari bawah ke atas (bottom up) untuk mengkampanyekan dirinya. Sosial media juga berperan dalam hal ini, pengguna media sosial meng-share berita positif tentang Jokowi, ikut membela Jokowi apabila ada ‘kampanye hitam’,menulis blog, membuat lagu di youtube dll. Teknik propaganda dan pembentukan wacana yang inovatif ini, yang berorientasi pada pembentukan komunitas, justru lebih efektif memikat masyarakat dibanding latar belakang partai Jokowi, yaitu PDI-P.
Bagaimana kemudian tim Jokowi membayangkan ‘kita’? Apa rencana Jokowi, kalau ada, tentang proses komunikasi antara negara dan warga negara? Tim Jokowi menggunakan konsep ‘publik’ sebagai rencana komunikasi politiknya; penggunaan konsep ini belum pernah sebelumnya secara sadar digunakan dalam kampanye presiden terdahulu. Dari visi-misinya yang berjumlah 41 halaman itu, tim Jokowi menggunakan kata ‘bangsa’ 51 kali, ‘publik’ 41 kali, ‘masyarakat’ 28 kali, ‘warga negara’ 17 kali, ‘rakyat’ 14 kali dan ‘manusia’ 13 kali. Dari sini, kata ‘bangsa’ dan ‘publik’ adalah dua kata yang paling dominan digunakan untuk mengacu pada masyarakat yang akan dipimpin. Saya ingin memberikan perhatian pada kata ‘publik’ ini. Kata ‘publik’ di masa orde baru memang bukan bagian dari kosa kata pemerintahan dan hanya populer di kalangan aktivis. Kata ini baru masuk dalam kosa kata perpolitikan Indonesia di masa reformasi, contohnya dalam reformasi undang-undang penyiaran di masa Megawati yang menugaskan pengadaan ‘institusi publik’ untuk mengawasi penyiaran, yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Apakah makna ‘publik’? ‘Publik’ sebenarnya merupakan konsep yang sering dikontraskan dengan ‘massa’. ‘Publik’ terdiri dari warganegara yang secara aktif ikut dalam pembentukan opini dan sikap untuk mengritik dan mengarahkan urusan-urusan yang menyangkut kenegaraan. Sementara, ‘massa’ merupakan sekumpulan orang yang diasumsikan pasif. Kalau dalam ‘massa’, opini yang beredar bersumber dari otoritas elit penguasa; dalam ‘ruang publik’, sumber opini datang dari masyarakat sendiri. Opini dari ‘ruang publik’ juga memiliki peran penting dalam aktivitas negara, tidak seperti suara massa yang dianggap tidak signifikan. Keberadaan ‘publik’ yang benar-benar nyata memerlukan syarat yang sulit direalisasikan dalam pemerintahan yang top-down dan hirarkis: 1) kepemilikan media tidak bisa dimonopoli oleh segelintir orang; 2) setiap warga negara—bahkan di pelosok negeri—harus memiliki akses ke ruang publik; 3) perbedaan pendapat dan kontak antara berbagai manusia yang memiliki identitas berbeda merupakan kebutuhan untuk mengayomi kehidupan kebersamaan bernegara. Lalu apa rencana komunikasi negara dan warga negara dari program visi misi tim Jokowi?
Konsep komunikasi Jokowi pun menggunakan konsep ‘publik’ ini sebagai landasan bernegara. Berikut kutipan-kutipannya:
‘Ruang publik’ yang masih dikungkung dengan ketidakadilan hukum juga akan timpang. Maka, perlu juga digarisbawahi program tim Jokowi yang tanpa takut dan malu (unapologetic) disampaikan:

Perbedaan politik komunikasi di balik propaganda masing-masing capres ini dan juga asumsinya tentang struktur kepemimpinan, mencerminkan gerak sejarah yang aktif yang ada dalam masyarakat kita saat ini. Gramsci menerangkan bahwa hegemoni menjelaskan aktivitas kelompok dominan di satu sisi dan kekuatan-kekuatan progresif yang counter-hegemony di sisi lain. Model kepemimpinan hirarkis dan top-down yang direplikasi Prabowo adalah hegemoni ‘residual’ yang terus hidup dan diteruskan dari masa lalu hingga sekarang. Kepemimpinan model seperti ini memang terus direproduksi bahkan dalam masyarakat sipil, misalnya dalam struktur lembaga agama, hubungan patriarkal antara ayah dan anak/istri bahkan antara dosen dan mahasiswa. Tidak heran ketika seorang anggota masyarakat yang terbiasa dengan sistem ini mengelu-elukan seorang pemimpin yang kuat dan tangguh, biasanya juga memiliki pandangan romantis tentang militer. Begitu juga, tidak heran melihat mantan aktivis yang sekarang mendukung kepemimpinan yang jelas tidak demokratis ini. Iming-iming ratu adil sangat efektif untuk orang-orang yang ingin perubahan yg instan—yang tidak mau berkotor-kotor terjun dan bergerak bersama masyarakat. Rasa aman yang dibangun berdasarkan rasa takut, hanya menguntungkan pemimpin yang memanfaatkan rasa takut/paranoid kolektif ini untuk kepentingannya. Padahal, bangsa yang “kuat, aman, makmur, berdikari” justru harus dibangun dengan kesadaran dan bukan eksploitasi paranoia kolektif.
Model kepemimpinan yang dipromosikan Jokowi sama sekali baru—paling tidak dalam sejarah bangsa kita. Hegemoni model komunikasi Jokowi adalah hegemoni yang ‘emergent’, muncul sebagai alternatif dari model kepemimpinan masa lalu, sebagai counter-hegemony. Kedua hegemoni model Prabowo dan Jokowi sama-sama dominan dalam masyarakat kita: ada pertarungan aktif antara model pemimpin tradisional yang hirarkis vs. pemimpin baru yang berorientasi komunitas. Sebagai gerak sejarah yang aktif, hegemoni selalu memperbaharui wajahnya. Prabowo, misalnya, menunjukkan diri bukan saja sebagai seorang militer tangguh yang nasionalis tetapi juga sebagai Muslim tulen. Identitas Muslim ini penting dalam kancah politik pasca-Orde Baru. Dengan begitu, Prabowo dianggap merupakan penggabungan segala kebutuhan koalisi antara elemen masyarakat yang paling ‘lengkap’. Saya letakkan tanda kutip untuk kata ‘lengkap’ karena jelas ini hanyalah modus propaganda semata untuk memenangkan simpati kelompok-kelompok yang tertarik pada isu-isu tunggal (single-issue group).
Kalau hegemoni kelas penguasa selalu beradaptasi dengan memperbaharui diri, bagaimana dengan counter-hegemony yang ada? Apakah kita cakap dalam memperbaharui taktik dan strategi dalam bergerak? Jangan-jangan, kita melulu menggunakan teknik yang sudah usang sehingga lagi-lagi tumbang?
Menurut saya, tidak akan ada perubahan yang signifikan tanpa partisipasi masyarakat yang sebenarnya dan tanpa keterbukaan untuk mendengar pluralitas ide, rasa, nilai dan pikiran yang ada. Salah satu ideologi para intelektual borjuis yang sukses adalah mitos bahwa demokrasi dan kesetaraan sosial dapat dicapai hanya dengan pemilu tiap 5 tahun sekali dan parlemen—artinya nasib bangsa diputuskan oleh segelintir pemimpin di parlemen. Tanpa partisipasi masyarakat dalam kehidupan politik sehari-hari, janji-janji Prabowo maupun Jokowi belum tentu menguntungkan masyarakat kelas bawah. Memilih apatis dan tidak melakukan apa-apa, seperti dalam konteks kita misalnya golput, pun hanya menguntungkan kelas penguasa, karena salah satu cara efektif mengontrol populasi adalah justru dengan menimbulkan rasa apatisme—dengan membangkitkan rasa kecewa karena kegagalan perjuangan di masa lalu—di satu sisi dan mengontrol konsensus di sisi lain—sehingga suara perlawanan yang ada terus terpojok. Satu-satunya cara agar masyarakat kelas bawah mendapatkan hak politiknya adalah dengan merebutnya. Tidak bisa kalau masyarakat terus-terusan menunggu sisa-sisa makanan dari bawah meja dan malas berjuang untuk mengklaim tempatnya di atas meja sejajar dengan para penguasa—alih-alih berharap bisa mengambil alih kursi para penguasa ini. Artinya, tidak bisa kita hanya menganggap bahwa perjuangan selesai dengan mencoblos 5 tahun sekali.
Apa tugas kita? Pemilu saat ini membuka ruang bagi kita untuk bergerak membentuk komunitas kita masing-masing dan bekerjasama satu sama lain untuk membentuk blok hegemoni masyarakat kelas bawah. Program Jokowi untuk membuka ‘ruang publik’ pun dapat menjadi infrastruktur bagi tujuan tersebut. Tetapi, menurut Gramsci, ini harus dicapai dengan cara yang ‘etis’ yang artinya kebenaran dan konsensus tidak dapat dipaksakan secara top-down dan harus dibuat nyata melalui dialog konkrit dan simpatik antara tiap anggota masyarakat. Sementara kita diskusikan secara terbuka langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan untuk membentuk hegemoni masyarakat kelas pekerja ini, saya akan tutup tulisan ini dengan sebuah kutipan inspiratif tentang sikap ‘dukungan kritis’, bukan dari filsuf tersohor tetapi dari jalanan:
‘Setelah pilihan dan kemenangan
Kami akan mundur menarik dukungan
Membentuk barisan parlemen jalanan
Mengawasi amanah kekuasaan.’
(Lagu ‘Bersatu Padu Memilih No. 2′ oleh Kill the DJ & Balance)***
Penulis adalah kandidat doktor ilmu komunikasi di University of Colorado, Boulder, AS.
Antara ‘Rakyat’ dan ‘Publik’: Politik Komunikasi Pemilu 2014
Pemilu 2014 di Indonesia diliputi perasaan yang mirip dengan masa ‘kekacauan’ yang dihadapi Italia, tepat sebelum rezim Mussolini berkuasa. Setelah tumbangnya rezim Suharto enam belas tahun silam, semangat perubahan reformasi mulai diliputi rasa pesimis. Sementara wajah-wajah Orde Baru kembali bermunculan dalam panggung politik bersekutu dengan sebagian para elit reformasi. Sementara itu, sebagian mantan aktivis 1998 yang dulu menentang orde baru berbondong-bondong berbalik mendukung persekutuan ini. Bagaimana kita memahami konfrontasi politik antara berbagai kelompok—pro Prabowo, pro Jokowi dan Golput—sebagai potret masyarakat kita saat ini dan bagaimana pemahaman ini membantu kita menjelaskan kebutuhan pergerakan sekarang?
Enam dari total sembilan tahun masa pemenjaraannya,Gramsci menghabiskan waktunya untuk bergelut dengan pertanyaan di atas. Konsep ‘hegemoni’ adalah salah satu buah pikiran yang ia kembangkan dalam Prison Notebooks untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hegemoni, menurut Gramsci, adalah kepemimpinan politik berdasarkan konsensus (consent), atau persetujuan, mereka yang dipimpin. Konsensus ini didapatkan dengan menyebarkan dan mempopulerkan pandangan kelas penguasa, membuatnya sebagai nalar wajar (common sense) dan mereproduksikannya kembali sebagai kewajaran dan kalau bisa kebutuhan masyarakat itu sendiri. Peran masyarakat sipil—seperti gereja/mesjid, sekolah, seni dan media—sangat besar dalam proses ini. Karena kepemimpinan bergantung pada konsensus masyarakat, segala bentuk kekerasan berupa kekuatan militer dan polisi diminimalisir. Kekerasan negara hanya akan dibutuhkan ketika melalui konsensus hegemoni penguasa tidak lagi dapat dicapai. Dengan konsep ini, Gramsci berhasil menjelaskan bahwa, meskipun didukung oleh kepentingan elit yang bejat, pemikiran-pemikiran fasis justru populer karena disyiarkan dengan kata-kata manis yang seolah masuk akal.
Mesin penggerak hegemoni adalah propaganda. Propaganda merupakan alat komunikasi penting yang membentuk opini publik. Propaganda membentuk sikap, tindakan dan pikiran masyarakat. Medium utamanya adalah media massa. Bentuk propaganda bermacam-macam, ada mitos, simbol, retorika dan lain lain (lihat Panduan Analisis Propaganda untuk Pemilu 2014). Propaganda seringkali juga menggunakan ‘kebenaran’ dan ‘ilmu pengetahuan’ dengan memanipulasinya atau dengan menggunakan kebenaran sepihak. Contoh kasus dalam pemilu 2014 adalah survei-survei polling yang tidak jelas akurasi datanya. Oleh karena itu, ‘fitnah’ dan ‘kampanye hitam’ hanyalah sebagian kecil teknik yang digunakan dalam propaganda. Untuk memahami pertarungan hegemoni di Indonesia, kita akan memahami propaganda tim Prabowo vs. tim Jokowi dan menjelaskan fenomena sosiologi macam apa yang ada dalam masyarakat kita.
Kita mulai dengan propaganda tim Prabowo. Slogan retorika tim Prabowo adalah ‘selamatkan Indonesia’. Walaupun tidak jelas Indonesia harus ‘diselamatkan’ dari ‘siapa’/’apa’?, tetapi slogan ini justru efektif untuk melancarkan dua alat propaganda lainnya. Pertama adalah ‘pembentukan ‘musuh’ bersama’. Slogan ini cair, artinya di depan kaum Islamis garis keras seperti FPI, musuh yang dibuat adalah Muslim Syiah, Ahmadiyah, orang Cina, kaum Nasrani; di depan ‘rakyat miskin’, musuh adalah pengusaha neoliberal, ‘para pencuri uang rakyat’ dll; sementara di depan kaum nasionalis, musuh yang dibayangkan adalah segala bentuk ancaman dari luar/asing. Konstruksi ‘musuh’ ini ampuh untuk melancarkan alat propaganda kedua, yaitu rasa urgensi (sense of urgency). Perasaan untuk segera bertindak ini tidak diarahkan berdasar pada riset yang matang dan kalkulasi langkah strategi yang jelas, tetapi lebih oleh ‘rasa takut’ bahwa ada bahaya laten menghadapi bangsa. Seperti kebanyakan alat propaganda tradisional lainnya, propaganda ini beroperasi dengan mengeksploitasi emosi masyarakat dan bukan membangun cara berpikir yang logis.
Sentimen yang muncul dari pembentukan rasa takut secara kolektif ini sejalan dengan citra yang dibangun tentang Prabowo. Karena ada ‘musuh’, maka kita butuh pemimpin militeristik yang ‘kuat’, ‘tegas’, ‘berani’ dan ‘agresif’. Kebutuhan ini pun diadopsi para simpatisan Prabowo, salah satunya dalam lirik lagu Ahmad Dhani berikut:
‘Kita butuh pemimpin yang kuat
Kita butuh pemimpin yang tegas
Yang bisa bawa bangsa ini menjadi bangsa nomer satu.
Sekarang atau tidak sama sekali
…
Inilah satu2nya kesempatan kita untuk jadi
Bangsa yang besar dan ditakuti
Bangsa yang disegani dihormati’ …
[Suara Prabowo] ‘Kalau bukan sekarang kapan lagi’
Citra ‘ksatria militer ideal’ pun dibangun dengan simbol-simbol tradisional. Prabowo menggunakan burung garuda untuk melekatkan ide nasionalisme, sementara kuda dan keris digunakan untuk memainkan nostalgia ksatria militer Jawa. Rasa ‘aman’ yang ditawarkan dengan simbol-simbol ini bekerja melalui pembentukan ide pemimpin yang patriotik, militeristik yang akan ‘memenangkan’ Indonesia menjadi ‘bangsa yang ditakuti, disegani dan dihormati’ melalui penaklukan ‘musuh’. Tentu saja mitos yang dibangun ini dilakukan dengan memanfaatkan latar belakang militer Prabowo, tetapi pembangunan mitos sebagai ksatria militer ideal ini pun berguna untuk menutupi karir buruknya di TNI. Bagaimana pun, mitos pemimpin yang jelas tidak realistis ini mengeksploitasi sentimen sebagian masyarakat yang merasa bahwa penyelesaian masalah bangsa yang begitu kompleks akan selesai dengan datangnya ‘ratu adil’.
Citra Prabowo sebagai ‘ratu adil’ ini dibangun dengan teknik-teknik estetika visual yang khas dalam iklan-iklan kampanyenya yang mengingatkan kita dengan teknik yang juga digunakan dalam propaganda Orde Baru. Teknik yang pertama adalah dengan membangun sosok narsisistik, sosok ‘aku’. Perhatikan hampir semua iklan TV Prabowo yang disponsori partainya dipenuhi oleh foto, aktivitas, cuplikan suara dirinya. Berbagai aktivitas masyarakat—petani, guru, nelayan—hanya menjadi latar belakang pembangunan sosok ini. Teknik kedua adalah pengambilan gambar dan voice-over yang dibiarkan impersonal dan berjarak, seakan-akan kita semua sedang menyaksikan Prabowo tanpa ikut di dalamnya. Bagi masyarakat yang terbiasa dengan struktur kepemimpinan hirarkis dan vertikal, pembuatan jarak ini berfungsi untuk membangun karakter pemimpin yang ‘sakral’, turun dari langit dan tidak sejajar dengan kawula rendahan.
Yang paling menarik dari propaganda tim Prabowo adalah, selain mengadopsi pencitraan tubuh Sukarno (lihat tulisan ‘Dua Tubuh Sukarno‘), Prabowo juga mengadopsi pencitraan Suharto. Selain menggunakan teknik estetika visual ala Orba yang sudah dijelaskan di atas, dalam orasi-orasinya dan juga debat presiden yang pertama, Prabowo melafalkan akhiran ‘kan’ dengan ‘ken’ yang khas Suharto, seperti ‘mengandalken’ dan ‘inginken’ (cat: Sukarno juga melafalkan ‘kan’ dengan ‘ken’, tapi pelafalan ini lebih lekat dengan pencitraan Suharto yang dibangun lewat pidato-pidatonya di televisi). Kita tahu bahwa kedua presiden memiliki sejarah politik kepemimpinan top-down, Sukarno dengan demokrasi terpimpinnya sementara Suharto dengan kediktatorannya. Mitos sosok ‘pemimpin kuat’—dengan orasi yang berapi-api dan pemimpin tangan besi—diadopsi, digabungkan dan dibuat untuk membangun nostalgia romantisme masa ‘kejayaan’ Indonesia—melawan koloni di jaman Sukarno dan sukses pembangunan di jaman Suharto.
Salah satu fungsi media adalah menetapkan agenda (agenda-setting), artinya melalui media para propagandis dapat mengalihkan perhatian masyarakat pada isu tertentu, sementara isu lain sengaja ditutupi dan diabaikan. Dalam kampanyenya, tim Prabowo fokus pada pencitraan Prabowo sebagai pemimpin yang kuat dan tegas. Tidak heran kalau seorang simpatisan ditanya mengapa pilih Prabowo, jawabannya adalah ‘karena dia pemimpin yang kuat dan tegas’. Dari kacamata politik komunikasi, ini brarti propaganda Prabowo sukses. Tapi Propaganda berdasar pembangunan citra dan bukan ide akan menjadi bumerang bagi Prabowo sendiri. Sebenarnya bagaimana Prabowo akan memimpin, apa maksud ‘kuat dan tegas’ dan apa rencana Prabowo untuk Indonesia? Untuk itu mari kita membongkar visi-misi tertulisnya.
Visi misi tim Prabowo sangat pendek—8 halaman lebih sedikit. Isinya berupa daftar program-program yang akan dilakukan dan tidak ada penjelasan kenapa program a dan b, misalnya, penting untuk dilakukan. Saya membatasi analisis saya hanya pada pertanyaan berikut: bagaimana tim Prabowo membayangkan kita, yang dipimpin? Dan bagaimana rencananya dalam berkomunikasi dengan kita?
Strategi pertama saya adalah dengan melihat pilihan katanya. Tim Prabowo dalam visi misinya menggunakan kata ‘rakyat’ 23 kali, kata ‘bangsa’ 11 kali dan kata ‘publik’ 1 kali. Selain itu, digunakan terminologi teknis seperti: ‘penduduk’, ‘si miskin’, ‘si kaya’, ‘angkatan kerja’, ‘pekerja’, ‘dunia usaha’, ‘pedagang kecil’, ‘buruh’ ‘orang kaya’ dan ‘kelas menengah’. Terminologi ini adalah istilah teknis karena penggunaannya lebih bersifat pengelompokan berdasar penghasilan maupun tipe pekerjaan, artinya keduanya berhubungan langsung dengan proyek ekonomi. Yang menarik perhatian saya justru penggunaan kata ‘rakyat’. Kata ‘rakyat’ sudah sejak dulu digunakan para pemimpin untuk mengacu pada ‘yang dipimpin’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), ‘rakyat’ berarti ‘penduduk suatu negara’, tapi ia juga bisa berarti ‘orang kebanyakan’, ‘orang biasa’ dan ‘bawahan’. Kata ‘rakyat’ pun sering digunakan untuk memberi makna bahwa seorang pemimpin ketika ia ingin sejajar dengan rakyat dia akan ‘merakyat’, kalau dia ingin ‘pro-rakyat’ dia akan mengaplikasikan ‘ekonomi kerakyatan’. Namun, dalam sejarahnya, kata ‘rakyat’ pun memiliki makna implisit yang hirarkis di mana rakyat adalah massa yang pasif: rakyat di bawah; pemimpin di atas, rakyat manut; pemimpin mengayomi, rakyat dicerdaskan; pemimpin mencerdaskan. Hubungan patriarkal dan infantilisasi ‘rakyat’—pemimpin sebagai bapak dan rakyat sebagai anak—terlihat dengan jelas dalam lagu ‘Bapak Kami Soeharto‘ berikut ini yang diciptakan Titiek Puspa di tahun 1990an di masa rezim Suharto:
Sujud kami bagimu yang esa
Terima kasih atas karunia
Sandang, pangan, pembangunan
Kau limpahkan bagi negri Indonesia
Sorang bapak yang telah kau cinta
Tuk memimpin negeri tercinta
Wibawanya dan senyumnya
Memberi ceria wajah Indonesia
Kepadamu Bapak kami Suharto
Terima kasih dari rakyat semua
Di belakangmu kami siaga
Demi kejayaan Indonesia
Kepadamu bapak kami Suharto
Terima kasih dari rakyat semua
Di dadamu kami sembahkan
Bapak pembangunan Indonesia
Analisis kedua yang saya lakukan adalah mencari program konkret dalam visi misi Prabowo tentang bagaimana negara akan berkomunikasi dengan warga negara dan apakah komunikasi dua arah ini dianggap perlu dalam proses bernegara. Hasilnya, tidak saya temukan program komunikasi bernegara yang spesifik dalam visi misi Prabowo. Seperti pemerintahan sebelumnya, komunikasi hanya dipandang dalam kacamata instrumentalis, salah satunya dalam hal pengembangan ‘industri nasional’. Alat transportasi (I.5 dan VI.2) yang merupakan infrastruktur komunikasi fisik, misalnya, yang penting dalam kontak komunikasi dan interaksi antar setiap manusia dalam sebuah negara hanya dilihat sebagai kebutuhan perekonomian dibanding kebutuhan sosial pembangunan karakter warga negara. Begitu pula teknologi komunikasi sosial hanya mendapat perhatian sekilas dalam hubungannya sebagai ‘instrumen’ komunikasi dalam konteks ekonomi atau birokrasi (I.8.b, II.6.8. Dan VI.6) dan bukan untuk kebutuhan sosial, misalnya: ‘Meningkatkan keharmonisan hubungan industrial dengan jalan memperbaiki koordinasi dan komunikasi antara pekerja, dunia usaha dan pemerintah’ (I.11.b.)—walaupun kita tahu permasalahan yang dihadapi kelas pekerja bukan masalah ‘miskomunikasi’ semata. Pandangan terhadap komunikasi yang ‘instrumentalis’ ini mengimplikasikan pandangan yang juga ‘instrumentalis’ pada masyarakat.
Lalu, bagaimana dengan propaganda tim Jokowi?
Kampanye tim Jokowi bisa dibilang menarik karena mereka menggunakan teknik yang sama sekali baru dan tidak menggunakan teknik tradisional yang biasa dilakukan dalam kampanye-kampanye presiden sebelumnya. Tekniknya fokus pada pembangunan komunitas. Slogan kampanyenya misalnya, ‘Indonesia hebat’ (atau ‘Jakarta baru’ di masa pencalonan gubernur), membangun rasa bangga dan ‘mandiri’ yang juga merupakan bagian dari visi misi tertulisnya. Simbol Jokowi yang paling dikenal mungkin adalah baju kotak-kotak merah, yang menjadi populer ketika dia mencalonkan diri menjadi gubernur Jakarta dua tahun lalu. Baju kotak-kotak memiliki kesan tidak formal dan santai jadi efektif dalam memikat anak-anak muda (apalagi di antara anak muda perkotaan, baju kotak-kotak identik dengan kaum hipster). Jokowi juga identik dengan kemeja putih polos dengan lengan tangan dilipat ke atas, sehingga ia sering dianggap mengidentifikasi diri dengan kaum pekerja—bukan kelas berjas dan berdasi—dan membuat citra sosok kelas bawah yang sederhana.
Iklan TV kampanye Jokowi juga tidak memunculkan foto maupun aktivitas Jokowi, kecuali, dalam beberapa iklan, Jokowi muncul diakhir iklan untuk mempromosikan partainya. Yang lebih menarik lagi adalah penggunaan kata ‘kita’ dalam voice-over beberapa iklan, salah satunya ini:
‘Kita ingin pemimpin jujur
Kita ingin pemimpin bersih
Kita ingin pemimpin sederhana
Tapi
Siapkah kita dipimpin untuk menjadi jujur?
Siapkah kita dipimpin untuk menjadi bersih?
Siapkah kita dipimpin untuk menjadi sederhana?
Bersama pemimpin yang lahir dari rakyat?
Kita siap menjadi Indonesia sebenarnya.
Jokowi-JK adalah kita.’
Penggunaan kata ‘kita’ memberikan rasa inklusif bagi penonton. Hubungan antara Jokowi dan penonton jadi tidak berjarak dan lebih personal. Hubungan pemimpin dan yang dipimpin pun dibuat kooperatif—ada kerjasama dua arah. Ini sesuai dengan orientasi kampanyenya yang berorientasi pada pembentukan komunitas tadi. Tidak heran kalau Jokowi juga mempopulerkan aktivitas ‘blusukan’ yang juga menjadi simbol propaganda Jokowi. Dalam blusukan, jokowi membuat politik komunikasi yang dua arah—saling mendengar dan memberi masukan, dan membentuk hubungan yang personal dengan calon pendukung. Politik komunikasi dua arah seperti ini memungkinkan masyarakat menggunakan kemampuannya untuk menjadi ekstensi propaganda, dengan menjadi relawan, ikut kampanye dll. Tidak heran kalau dukungan kepada Jokowi banyak bermunculan dengan turunnya masyarakat ke jalanan dengan menjadi relawan, membuat radio komunitas Jokowi-JK, membuat selebaran/koran (seperti koran Bakti), membuat kampanye lewat blog, twitter, facebook, membuat lagu simpatisan (seorang kawan menemukan lebih dari 60 lagu di youtube yang dibuat oleh masyarakat umum untuk dukung Jokowi-JK), dan, yang lebih penting lagi, pendanaan massal untuk kampanye (crowdfunding).
Salah satu video youtube lagu dukungan untuk Jokowi-JK dari masyarakat umum.
Dengan membangun rasa komunitas dan hubungan kerjasama horisontal, tim Jokowi berhasil mengorganisir masyarakat dan merangsang munculnya aktivitas-aktivitas dari bawah ke atas (bottom up) untuk mengkampanyekan dirinya. Sosial media juga berperan dalam hal ini, pengguna media sosial meng-share berita positif tentang Jokowi, ikut membela Jokowi apabila ada ‘kampanye hitam’,menulis blog, membuat lagu di youtube dll. Teknik propaganda dan pembentukan wacana yang inovatif ini, yang berorientasi pada pembentukan komunitas, justru lebih efektif memikat masyarakat dibanding latar belakang partai Jokowi, yaitu PDI-P.
Bagaimana kemudian tim Jokowi membayangkan ‘kita’? Apa rencana Jokowi, kalau ada, tentang proses komunikasi antara negara dan warga negara? Tim Jokowi menggunakan konsep ‘publik’ sebagai rencana komunikasi politiknya; penggunaan konsep ini belum pernah sebelumnya secara sadar digunakan dalam kampanye presiden terdahulu. Dari visi-misinya yang berjumlah 41 halaman itu, tim Jokowi menggunakan kata ‘bangsa’ 51 kali, ‘publik’ 41 kali, ‘masyarakat’ 28 kali, ‘warga negara’ 17 kali, ‘rakyat’ 14 kali dan ‘manusia’ 13 kali. Dari sini, kata ‘bangsa’ dan ‘publik’ adalah dua kata yang paling dominan digunakan untuk mengacu pada masyarakat yang akan dipimpin. Saya ingin memberikan perhatian pada kata ‘publik’ ini. Kata ‘publik’ di masa orde baru memang bukan bagian dari kosa kata pemerintahan dan hanya populer di kalangan aktivis. Kata ini baru masuk dalam kosa kata perpolitikan Indonesia di masa reformasi, contohnya dalam reformasi undang-undang penyiaran di masa Megawati yang menugaskan pengadaan ‘institusi publik’ untuk mengawasi penyiaran, yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Apakah makna ‘publik’? ‘Publik’ sebenarnya merupakan konsep yang sering dikontraskan dengan ‘massa’. ‘Publik’ terdiri dari warganegara yang secara aktif ikut dalam pembentukan opini dan sikap untuk mengritik dan mengarahkan urusan-urusan yang menyangkut kenegaraan. Sementara, ‘massa’ merupakan sekumpulan orang yang diasumsikan pasif. Kalau dalam ‘massa’, opini yang beredar bersumber dari otoritas elit penguasa; dalam ‘ruang publik’, sumber opini datang dari masyarakat sendiri. Opini dari ‘ruang publik’ juga memiliki peran penting dalam aktivitas negara, tidak seperti suara massa yang dianggap tidak signifikan. Keberadaan ‘publik’ yang benar-benar nyata memerlukan syarat yang sulit direalisasikan dalam pemerintahan yang top-down dan hirarkis: 1) kepemilikan media tidak bisa dimonopoli oleh segelintir orang; 2) setiap warga negara—bahkan di pelosok negeri—harus memiliki akses ke ruang publik; 3) perbedaan pendapat dan kontak antara berbagai manusia yang memiliki identitas berbeda merupakan kebutuhan untuk mengayomi kehidupan kebersamaan bernegara. Lalu apa rencana komunikasi negara dan warga negara dari program visi misi tim Jokowi?
Konsep komunikasi Jokowi pun menggunakan konsep ‘publik’ ini sebagai landasan bernegara. Berikut kutipan-kutipannya:
‘5. Kami akan membangun keterbukaan informasi dan komunikasi publik. Dalam kebijakan informasi dan komunikasi publik, kami akan memberi penekanan pada 7 (tujuh) prioritas utamaJuga disebutkan:
a. Kami akan menjalankan secara konsisten UU No. 12 Tahun 2008 tentang keterbukaan Informasi Publik.
b. Kami akan meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas.
c. Kami akan mewajibkan instansi pemerintah pusat dan daerah untuk membuat laporan kinerja serta membuka akses informasi publik seperti diatur dalam UU No. 12 Tahun 2008 untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan;
d. Kami akan mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik dengan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan Badan Publik yang baik;
e. Kami akan menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik;
f. Kami akan menata kembali kepemilikan frekuensi penyiaran yang merupakan bagian dari hajat hidup orang banyak sehingga tidak terjadi monopoli atau penguasaan oleh sekelompok orang (kartel) industri penyiaran;
g. Kami akan mendorong inovasi dan pengembangan industri teknologi informasi dan komunikasi, sehingga Negara besar seperti Indonesia tidak sekedar menjadi pasar bagi semua industri teknologi informasi dan komunikasi asing, tetapi mampu menciptakan dan memproduksi teknologi informasi dan komunikasi serta menjadi tuan rumah di Negara sendiri.’ (Halaman 17)
‘d. Kami akan menyediakan forum untuk melibatkan masyarakat dalam proses legislasi dan menyediakan akses terhadap proses dan produk legislasi’Tim Jokowi cukup sensitif dengan syarat kondisi ‘ruang publik’ yang sudah disebutkan di atas. Mereka berkomitmen untuk menata kembali kepemilikan penyiaran yang selama ini dimonopoli segelintir orang (poin f) (lihat: Penelitian Merlyna Lim). Mereka juga berkomitmen untuk melibatkan masyarakat dalam proses legislasi. Komunikasi dua arah yang setara antara negara dan warga negara dan kepastian agar warga negara untuk ikut dalam proses harian kehidupan bernegara adalah salah satu manifestasi konsep ‘publik’.
‘f. ‘Kami berkomitmen untuk mewujudkan Pelayanan Publik yang Bebas Korupsi melalui teknologi informasi yang transparan’ 24
‘l. Kami akan membuka keterlibatan publik dan media massa dalam pengawasan terhadap upaya tindakan korupsi maupun proses penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi.’ (Halaman 25)
‘Ruang publik’ yang masih dikungkung dengan ketidakadilan hukum juga akan timpang. Maka, perlu juga digarisbawahi program tim Jokowi yang tanpa takut dan malu (unapologetic) disampaikan:
‘Kami berkomitmen menyelesaikan secara berkeadilan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu yang sampai dengan saat ini masih menjadi beban sosial politik bagi bangsa Indonesia seperti; kerusuhan Mei, Trisakti-Semanggi 1 dan 2, Penghilangan Paksa, Talang Sari-Lampung, Tanjung Priok, Tragedi 1965’
‘Kami berkomitmen menghapus semua bentuk impunitas di dalam sistem hukum nasional, termasuk di dalamnya merevisi UU Peradilan Militer yang pada masa lalu merupakan salah satu sumber pelanggaran HAM’ (halaman 27)
Berikut ringkasan perbandingan politik komunikasi tim Prabowo dan Jokowi:
Perbedaan politik komunikasi di balik propaganda masing-masing capres ini dan juga asumsinya tentang struktur kepemimpinan, mencerminkan gerak sejarah yang aktif yang ada dalam masyarakat kita saat ini. Gramsci menerangkan bahwa hegemoni menjelaskan aktivitas kelompok dominan di satu sisi dan kekuatan-kekuatan progresif yang counter-hegemony di sisi lain. Model kepemimpinan hirarkis dan top-down yang direplikasi Prabowo adalah hegemoni ‘residual’ yang terus hidup dan diteruskan dari masa lalu hingga sekarang. Kepemimpinan model seperti ini memang terus direproduksi bahkan dalam masyarakat sipil, misalnya dalam struktur lembaga agama, hubungan patriarkal antara ayah dan anak/istri bahkan antara dosen dan mahasiswa. Tidak heran ketika seorang anggota masyarakat yang terbiasa dengan sistem ini mengelu-elukan seorang pemimpin yang kuat dan tangguh, biasanya juga memiliki pandangan romantis tentang militer. Begitu juga, tidak heran melihat mantan aktivis yang sekarang mendukung kepemimpinan yang jelas tidak demokratis ini. Iming-iming ratu adil sangat efektif untuk orang-orang yang ingin perubahan yg instan—yang tidak mau berkotor-kotor terjun dan bergerak bersama masyarakat. Rasa aman yang dibangun berdasarkan rasa takut, hanya menguntungkan pemimpin yang memanfaatkan rasa takut/paranoid kolektif ini untuk kepentingannya. Padahal, bangsa yang “kuat, aman, makmur, berdikari” justru harus dibangun dengan kesadaran dan bukan eksploitasi paranoia kolektif.
Model kepemimpinan yang dipromosikan Jokowi sama sekali baru—paling tidak dalam sejarah bangsa kita. Hegemoni model komunikasi Jokowi adalah hegemoni yang ‘emergent’, muncul sebagai alternatif dari model kepemimpinan masa lalu, sebagai counter-hegemony. Kedua hegemoni model Prabowo dan Jokowi sama-sama dominan dalam masyarakat kita: ada pertarungan aktif antara model pemimpin tradisional yang hirarkis vs. pemimpin baru yang berorientasi komunitas. Sebagai gerak sejarah yang aktif, hegemoni selalu memperbaharui wajahnya. Prabowo, misalnya, menunjukkan diri bukan saja sebagai seorang militer tangguh yang nasionalis tetapi juga sebagai Muslim tulen. Identitas Muslim ini penting dalam kancah politik pasca-Orde Baru. Dengan begitu, Prabowo dianggap merupakan penggabungan segala kebutuhan koalisi antara elemen masyarakat yang paling ‘lengkap’. Saya letakkan tanda kutip untuk kata ‘lengkap’ karena jelas ini hanyalah modus propaganda semata untuk memenangkan simpati kelompok-kelompok yang tertarik pada isu-isu tunggal (single-issue group).
Kalau hegemoni kelas penguasa selalu beradaptasi dengan memperbaharui diri, bagaimana dengan counter-hegemony yang ada? Apakah kita cakap dalam memperbaharui taktik dan strategi dalam bergerak? Jangan-jangan, kita melulu menggunakan teknik yang sudah usang sehingga lagi-lagi tumbang?
Menurut saya, tidak akan ada perubahan yang signifikan tanpa partisipasi masyarakat yang sebenarnya dan tanpa keterbukaan untuk mendengar pluralitas ide, rasa, nilai dan pikiran yang ada. Salah satu ideologi para intelektual borjuis yang sukses adalah mitos bahwa demokrasi dan kesetaraan sosial dapat dicapai hanya dengan pemilu tiap 5 tahun sekali dan parlemen—artinya nasib bangsa diputuskan oleh segelintir pemimpin di parlemen. Tanpa partisipasi masyarakat dalam kehidupan politik sehari-hari, janji-janji Prabowo maupun Jokowi belum tentu menguntungkan masyarakat kelas bawah. Memilih apatis dan tidak melakukan apa-apa, seperti dalam konteks kita misalnya golput, pun hanya menguntungkan kelas penguasa, karena salah satu cara efektif mengontrol populasi adalah justru dengan menimbulkan rasa apatisme—dengan membangkitkan rasa kecewa karena kegagalan perjuangan di masa lalu—di satu sisi dan mengontrol konsensus di sisi lain—sehingga suara perlawanan yang ada terus terpojok. Satu-satunya cara agar masyarakat kelas bawah mendapatkan hak politiknya adalah dengan merebutnya. Tidak bisa kalau masyarakat terus-terusan menunggu sisa-sisa makanan dari bawah meja dan malas berjuang untuk mengklaim tempatnya di atas meja sejajar dengan para penguasa—alih-alih berharap bisa mengambil alih kursi para penguasa ini. Artinya, tidak bisa kita hanya menganggap bahwa perjuangan selesai dengan mencoblos 5 tahun sekali.
Apa tugas kita? Pemilu saat ini membuka ruang bagi kita untuk bergerak membentuk komunitas kita masing-masing dan bekerjasama satu sama lain untuk membentuk blok hegemoni masyarakat kelas bawah. Program Jokowi untuk membuka ‘ruang publik’ pun dapat menjadi infrastruktur bagi tujuan tersebut. Tetapi, menurut Gramsci, ini harus dicapai dengan cara yang ‘etis’ yang artinya kebenaran dan konsensus tidak dapat dipaksakan secara top-down dan harus dibuat nyata melalui dialog konkrit dan simpatik antara tiap anggota masyarakat. Sementara kita diskusikan secara terbuka langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan untuk membentuk hegemoni masyarakat kelas pekerja ini, saya akan tutup tulisan ini dengan sebuah kutipan inspiratif tentang sikap ‘dukungan kritis’, bukan dari filsuf tersohor tetapi dari jalanan:
‘Setelah pilihan dan kemenangan
Kami akan mundur menarik dukungan
Membentuk barisan parlemen jalanan
Mengawasi amanah kekuasaan.’
(Lagu ‘Bersatu Padu Memilih No. 2′ oleh Kill the DJ & Balance)***
Penulis adalah kandidat doktor ilmu komunikasi di University of Colorado, Boulder, AS.
Dahlan Iskan Dukung Jokowi-JK
Pasangan Jokowi-JK mendapat tambahan dukungan penting dari Dahlan Iskan.
Saat transit di Bandara Sepinggan Balikpapan dalam kunjungan ke Samarinda, Kamis 24/5, JK bertemu Dahlan Iskan dan keduanya pun sempat berbincang bincang sambil menunggu penerbangan lanjutan.
Dalam pertemuan singkat ini,
JK sapaan akrab M. Jusuf Kalla, sempat menanyakan kepada Dahlan Iskan,
"apakah akan mendukung dirinya dan Jokowi pada Pilpres, nanti?"
Dan ketika itu secara lugas, Dahlan Iskan mengatakan siap mendukung, kata JK.
Pada kesempatan lain, Dahlan Iskan, peserta Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat sekaligus Meneg BUMN, sudah mengatakan sulit membendung Jokowi.
Jokowi adalah arus besar kecintaan rakyat, dia tidak bisa dibendung itu realitas politik saat ini.
"Bila calon lain ingin ngotot pengen jadi Presiden, tapi apakah
yang lain dicintai rakyat? Jokowi dicintai rakyat dan sulit terbendung,"
ujar Dahlan Iskan yang merupakan pemenang Konvensi Demokrat ini.
Dukungan Dahlan Iskan ini pun ikut diamini oleh HM Alwi Hamu yang merupakan sahabat dekatnya.
Bahkan, menurut Alwi, dukungan tersebut juga diikuti oleh Relawan Demi Indonesia (Relawan DI) yang merupakan pendukung Dahlan Iskan for President pada konvensi Partai Demokrat yang lalu.
Relawan DI siap mengalihkan dukungannya pada pasangan Jokowi-JK dengan memaksimalkan jaringannya di seluruh Indonesia.
"Tadi malam, Relawan Demi Indonesia siap ikut memenangkan Jokowi JK," tukasnya
Anies Baswedan, Pilpres 2014: Pilihan Saya..
Semoga Anda dalam keadaan sehat wal afiat saat membaca
tulisan ini. Saya menulis terkait dengan pilihan saya dalam pemilihan
presiden yang akan datang.
Kemarin saya menerima telepon dari Pak Jokowi, mengundang saya
untuk membantu dalam perjalanan ke depan. Begitu juga dengan Pak Jusuf
Kalla, beliau juga menelpon dan menyampaikan undangan yang sama. Sebagai
warga negara dan sebagai kawan baik mereka, saya harus menjawab dan
menentukan sikap. Di sini kemudian saya melihat kembali pikiran dan
kegiaatan yang selama ini kita sama-sama jalankan.
Sebagaimana yang sering saya sampaikan dalam dialog dan diskusi di Turun Tangan.
Kita harus mendorong orang baik agar bersedia memasuki arena politik
dan mendorong agar kita semua bersedia membantu agar mereka bisa
mendapatkan otoritas untuk mengelola negara ini.
Saya sadar sekali bahwa kita bukan sedang mencari manusia sempurna.
Jadi, jangan berharap akan hadir figur sempurna. Dalam pemilihan
presiden ini kita akan menentukan pada siapa otoritas negeri ini akan
dititipkan. Di Indonesia ada banyak pemimpin. Kitapun bisa memilih
pemimpin kapan saja tapi pergantian pemegang otoritas negeri ini hanya
berlangsung sekali dalam 5 tahun. Pertanyaan yang tiap kita harus jawab
adalah pada pemimpin yang mana otoritas itu akan diberikan? Otoritas
untuk mengatasnamakan kita selama 5 tahun ke depan, untuk mengelola uang
pajak kita, untuk menentukan arah perjalanan pemerintahan dan
sebagainya.
Saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada dua pilihan pasangan
calon pemegang otoritas: Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta. Itu adalah fakta. Pada pasangan mana otoritas akan kita titipkan?
Seperti saya tulis dalam email sebelumnya, perjuangan kita di
Gerakan Turun Tangan bukan membawa cita-cita untuk meraih otoritas. Kita
membawa misi untuk dijalankan karena itu kita memerlukan otoritas. Kita
membawa misi agar kebijakan yang dihasilkan oleh proses politik ini
adalah kebijakan yang berfokus pada kualitas manusia berdaulat yang
sehat, terdidik dan makmur dalam sebuah masyarakat yang berkepastian
hukum. Indonesia yang berkeadilan sosial. Itu misi kita.
Perjuangan kita selama ini sudah berhasil membangun kesadaran bahwa
orang baik harus turun tangan membantu orang-orang terpercaya agar bisa
terpilih menjadi wakil rakyat dan menjadi pemegang otoritas
kepemimpinan di pemerintahan. Jika proses politik yang terjadi tidak
memungkinkan mendapatkan otoritas itu, sebagaimana yang dialami
sekarang, maka kita akan terus bawa misi itu dalam berbagai kegiatan
kita. Dan tentu saja misi inipun bisa dititipkan pada orang lain yang
kita percayai serta bersedia untuk menjalankannya.
Masalah yang dihadapi Indonesia hari ini masih banyak yang
tergolong masalah primer dan mendasar: pangan, kesehatan, pendidikan,
infrastruktur dan sebagainya. Hambatan terbesar untuk memajukan juga
masih sama, diantaranya maraknya korupsi dan belum terciptanya
tata-kelola pemerintahan yang baik. Siapapun yang diberi otoritas untuk
mengelola negara ini harus membereskan masalah yang elementer ini.
Setelah 15 tahun lebih reformasi berjalan, saya merasa Indonesia
kita memerlukan penyegaran. Perlu cara pandang baru, semangat baru,
pendekatan baru, cara kerja baru, dan bahkan orang baru. Baru memang
bukan soal usia, walau memang usia muda sering diasosiasikan dengan
baru. Kepemimpinan di pemerintahan perlu kebaruan. Saya melihat unsur
kebaruan ini diperlukan untuk membuat terobosan dan membongkar berbagai
kemacetan dalam pengelolaan negara ini.
Sebagaimana yang saya sering sampaikan, jangan diam dan mendiamkan
maka sayapun harus konsisten untuk memilih dan membantu sesuai dengan
kriteria saya.
Di sinilah kemudian saya merasa pasangan Jokowi-JK lebih sesuai.
Mereka berdua tidak sepenuhnya kombinasi kebaruan karena Jusuf Kalla
adalah tokoh senior, pernah jadi Wakil Presiden. Tapi potensi
memunculkan kebaruan dan terobosan dari pasangan Jokowi-JK ini terlihat
lebih besar. Ada lebih besar harapan bahwa pasangan ini bisa menjalankan
misi yang disebut diatas secara lebih optimal. Dengan latar belakang
misi yang selama ini kita jalankan maka saya menyatakan bersedia untuk
membantu pasangan Jokowi-JK.
Melalui email ini, keputusan tersebut saya sampaikan secara
langsung pada semua teman-teman yang selama ini berjalan bersama dalam
Gerakan Turun Tangan. Ini dilakukan sebelum saya menjawab secara terbuka
pada publik/umum. Email inipun dikirim kepada Anda sebelum ada
penjelasan terbuka. Walau di media sudah beredar berbagai spekulasi,
tapi saya ingin memastikan bahwa Anda mendengar kabar ini bukan dari
media massa tapi langsung dari saya sendiri.
Semua ini berjalan amat cepat tapi itulah hidup, kita memang selalu
siap dan berani ambil pilihan lalu hadapi, sebagaimana slogan kita
semua sebagai pejuang.
Pilihan ini adalah pilihan saya pribadi sebagai warga negara yang
menyatakan turun tangan, dan menyatakan siap membantu. Anjuran saya pada
anda adalah jangan diam dan mendiamkan. Seperti yang saya sampaikan
dalam email kemarin: lihat masalah utama Indonesia, lihat
track-recordnya, kaji rencana kerjanya, kuasai informasi tentang mereka
lalu tentukan pilihan. Jangan cari manusia sempurna. Sebagaimana yang
selama ini sering dikatakan, bantu orang baik yaitu orang bersih/tak
bermasalah dan kompeten. Lalu ajak lingkungan anda untuk berdiskusi dan
menentukan sikap.
Perjalanan kita masih panjang. Ikhtiar kita untuk mendorong orang
baik terus kita jalankan. Gerakan Turun Tangan saat ini belum menyusun
perangkat organisasi untuk mengambil keputusan dan sikap. Walau Turun
Tangan sebagai sebuah institusi tidak terlibat dalam kegiatan Pilpres
bulan Juli 2014 ini, tetapi semua simpatisan dan relawan dianjurkan
untuk terus melakukan pendidikan politik dan kesadaran perlunya terlibat
. Setiap kita memiliki hak yang sama untuk menentukan pilihan diantara
dua pasangan yang berhak menjadi caon dalam Pemilihan Presiden. Saya
telah menentukan pilihan, saya harap anda bisa segera menentukan pilihan
sesuai dengan prioritas anda.
Saya perlu garis bawahi, apapun pilihan kita itu adalah karena
kecintaan kita pada Indonesia dan komitmen kita untuk memanjukan bangsa
tercinta ini. Dengan begitu pilihan ini tidak boleh menyebabkan
permusuhan. Lawan beda dengan musuh. Lawan debat adalah teman berpikir,
lawan badminton adalah teman berolah raga. Beda dengan musuh yang akan
saling menghabisi, lawan itu akan saling menguatkan.
Berbeda pilihan itu biasa, tidak usah risau apalagi bermusuhan,
rilex saja. Jangan kita terlibat untuk saling menghabisi. Mari kita
semua turun tangan untuk saling menguatkan, untuk saling mencintai
Indonesia dan untuk membuat kita semua bangga bahwa kita jaga kehormatan
dalam menjalani proses politik ini.
Terima kasih dan salam hangat dari Jakarta.
Dukungan Jokowi dari @EepSFatah
Twitter dari @EepSFatah :
1. Untuk teman2 yang tanya, saya ikut berjuang bersama dengan @jokowi_do2 dan @Pak_JK memenangkan Indonesia via Pilpres 2014. Bismillah.
2. Sy menghormati pilihan kawan2 dalam Pilpres ini. Mohon hormati jg pilihan saya. Tidak usah buang waktu membully sy krn tak akan sy layani
3. Saya tak mau berpanjang2 soal ini, cuma mau sekali ini aja jawab dg pendek pertanyaan kenapa saya dukung @jokowi_do2 - @Pak_JK.
4. Bekerja bersama @jokowi_do2 di Pilkada Jakarta selama 7 bulan membuat sy tahu Jokowi layak diberi kesempatan menjadi pemimpin.
5. Ada banyak cerita tak benar tentang @jokowi_do2 di sosmed. Sayangnya sy gak berminat melayani & mengklarifikasinya. Saya doakan saja…
6. Saya doakan saja, Tuhan segera memberi pencerahan pikiran dan pelapangan hati untuk mereka yang senang menyebarkan kebohongan.
7.Saya kenal pribadi @Pak_JK sejak 1998, ketika Sebagai Ketua Mesjid Al Markaz mengundang saya bicara & diskusi soal politik Umat Islam.
8. Saya tahu bahwa pada @Pak_JK ada banyak kualitas baik yang orang muda seperti saya harus banyak belajar. Tentu saja @Pak_JK & @jokowi_do2…
9. Tentu saja, @jokowi_do2 dan @Pak_JK sebagai manusia biasa punya banyak kelemahan. Begitupun kandidat lain dan kita semua. Tugas kita…
10. Tugas kita adlh terus terjaga, mjadi pengingat para pemimpin agar mereka bkerja sbaik mungkin & menebar sebanyak mungkin manfaat & maslahat.
Dukungan Jujur
Eep Saefulloh Fatah adalah CEO dan konsultan PolMark Inc. yang bergerak di bidang Politik Marketing. Ia juga adalah ‘murid’ dari Ustadz Yusuf Mansur. Ya, Eep mengutarakan kalau ia mendukung Jokowi dan merasa Jokowi layak diberi kesempatan menjadi pemimpin. Apalagi pendampingnya JK yang kapabilitas dan integritasnya sudah teruji.
Yang jadi catatan Eep juga, banyak orang yang denganj watadosnya (wajah tanpa dosa) menebar link ebrita berita negatif bahkan menjurus fitnah tentang Jokowi. Saya juga pribadi heran. Kok bisa-bisanya berita link yang serampangan ditebar gitu aja. Sudah begitu beritanya dari web atau sumber yang bawa embel-embel islam pula. Malu-maluin islam! Namun Eep menilai bahwa berita seperti itu tidak layak dilayani. Ya, prestasi dan kinerja yang berbicara.
1. Untuk teman2 yang tanya, saya ikut berjuang bersama dengan @jokowi_do2 dan @Pak_JK memenangkan Indonesia via Pilpres 2014. Bismillah.
2. Sy menghormati pilihan kawan2 dalam Pilpres ini. Mohon hormati jg pilihan saya. Tidak usah buang waktu membully sy krn tak akan sy layani
3. Saya tak mau berpanjang2 soal ini, cuma mau sekali ini aja jawab dg pendek pertanyaan kenapa saya dukung @jokowi_do2 - @Pak_JK.
4. Bekerja bersama @jokowi_do2 di Pilkada Jakarta selama 7 bulan membuat sy tahu Jokowi layak diberi kesempatan menjadi pemimpin.
5. Ada banyak cerita tak benar tentang @jokowi_do2 di sosmed. Sayangnya sy gak berminat melayani & mengklarifikasinya. Saya doakan saja…
6. Saya doakan saja, Tuhan segera memberi pencerahan pikiran dan pelapangan hati untuk mereka yang senang menyebarkan kebohongan.
7.Saya kenal pribadi @Pak_JK sejak 1998, ketika Sebagai Ketua Mesjid Al Markaz mengundang saya bicara & diskusi soal politik Umat Islam.
8. Saya tahu bahwa pada @Pak_JK ada banyak kualitas baik yang orang muda seperti saya harus banyak belajar. Tentu saja @Pak_JK & @jokowi_do2…
9. Tentu saja, @jokowi_do2 dan @Pak_JK sebagai manusia biasa punya banyak kelemahan. Begitupun kandidat lain dan kita semua. Tugas kita…
10. Tugas kita adlh terus terjaga, mjadi pengingat para pemimpin agar mereka bkerja sbaik mungkin & menebar sebanyak mungkin manfaat & maslahat.
Dukungan Jujur
Eep Saefulloh Fatah adalah CEO dan konsultan PolMark Inc. yang bergerak di bidang Politik Marketing. Ia juga adalah ‘murid’ dari Ustadz Yusuf Mansur. Ya, Eep mengutarakan kalau ia mendukung Jokowi dan merasa Jokowi layak diberi kesempatan menjadi pemimpin. Apalagi pendampingnya JK yang kapabilitas dan integritasnya sudah teruji.
Yang jadi catatan Eep juga, banyak orang yang denganj watadosnya (wajah tanpa dosa) menebar link ebrita berita negatif bahkan menjurus fitnah tentang Jokowi. Saya juga pribadi heran. Kok bisa-bisanya berita link yang serampangan ditebar gitu aja. Sudah begitu beritanya dari web atau sumber yang bawa embel-embel islam pula. Malu-maluin islam! Namun Eep menilai bahwa berita seperti itu tidak layak dilayani. Ya, prestasi dan kinerja yang berbicara.
Jokowi atau Prabowo: Ketika Sentimen Agama Bertarung Dengan Nalar
31 May 2014 | 08:59
Saya perhatikan, baik di sosial media maupun di lingkungan sekitar saya,
sebagian dari mereka yang memutuskan untuk mendukung Prabowo didasari
oleh sentimen agama. Rumor bahwa Jokowi adalah Kristen dan orang tuanya
adalah keturunan Tionghoa semakin menguatkan sentimen tersebut, walau
tidak pernah diketahui secara pasti seberapa besar pengaruhnya.
Masyarakat yang gampang terhasut dan enggan melakukan cek-recek
informasi, dengan mudah termakan oleh rumor tersebut.
Mereka yang melek informasi tahu bahwa Jokowi adalah seorang muslim. Orang tua dan semua adik-adiknya sudah berhaji. Kampanye hitam yang menyerang keislaman Jokowi menjadi bumerang ketika terungkap bahwa Ibu dari Prabowo beragama Kristen, begitu pula dengan kakak dan adiknya, semuanya beragama Kristen. Adik prabowo, Hashim S. Djojohadikusumo, merupakan Ketua Dewan Pembina KIRA (Kristen Indonesia Raya), organisasi sayap Kristen partai GERINDRA (kepengurusan KIRA dapat dilihat pada situs resmi KIRA di http://www.kiragerindra.org/index.php/content/page/11)
Walau Jokowi terbukti seorang muslim, bagi sebagian muslim itu tidak cukup, karena di belakangnya ada PDIP. Bagi mereka, PDIP adalah partai Kristen, sehingga mendukung Jokowi sama saja dengan mendukung Kristen. Padahal kita semua tahu bahwa baik PDIP maupun GERINDRA, keduanya bukanlah partai Kristen.
Saya tidak pernah menjadi simpatisan partai manapun. Saya malah cenderung apatis terhadap partai politik. Hal ini merupakan dampak dari kekecewaan saya terhadap tingkah-laku sebagian anggota DPR yang korup dan seringkali tidak berpihak pada rakyat. Jadi bagi saya sama saja, apakah itu partai islam atau partai nasionalis, semuanya bermasalah. Ketua Partai Demokrat tersangkut korupsi Hambalang, presiden PKS tersangkut korupsi sapi, ketua PPP tersangkut korupsi haji, ketua Partai Golkar tersangkut kasus lumpur, ketua Partai Gerindra pernah dipecat dari TNI, dan sebagainya. Semua hal di atas bukanlah rumor, tapi fakta. Jadi tidak ada satu pun partai di Indonesia ini yang bebas dari masalah.
Saya bukan fans-nya PDIP dan tidak pernah seumur hidup pun (sampai sekarang) menjadi simpatisan PDIP. Namun harus saya akui secara objektif bahwa PDIP membuat terobosan baru dengan menghadirkan Ibu Risma di Surabaya, Pak Ganjar di Jawa Tengah, serta Pak Jokowi di Solo dan DKI. Saya juga mengapresiasi GERINDRA yang mengusung Ahok di DKI dan Ridwan Kamil di Bandung. Ketika PILKADA dan PILEG, saya tidak peduli dengan partai pengusungnya. Bagi saya semua partai politik sama bobroknya. Yang saya lihat adalah tokohnya. Karenanya di PILEG kemarin, tiga tokoh yang saya pilih untuk DPR, DPRD I dan DPRD II, berasal dari tiga partai yang berbeda.
Sebagian orang masih saja mempermasalahkan bahwa jika Jokowi menjadi presiden, maka Ahok yang diusung oleh GERINDRA di PILKADA DKI Jakarta akan menjadi gubernur. Padahal Ahok itu non-muslim dan keturunan Tionghoa.
Kalau Ahok non-muslim dan keturunan Tionghoa memangnya kenapa? Sepanjang ia jujur, cerdas, tulus dan punya nyali untuk memberantas korupsi dan berbagai penyimpangan, kenapa harus dipermasalahkan agama dan keturunannya. Gubernur DKI sebelumnya tidak ada yang berani menyentuh Tanah Abang, tapi Ahok dengan keberaniannya membereskan Tanah Abang. DISKOTIK STADIUM di Jakarta sudah berdiri 16 tahun, dan menjadi sarang maksiat, transaksi seks dan narkoba, namun tidak ada satu pun gubernur Jakarta (yang notabene selalu muslim) yang berani menutupnya, bahkan seorang Gubernur Jakarta yang berlatar belakang jenderal militer sekalipun seperti Bang Yos. Tapi Ahok, begitu mendapat mandat menjadi Plt Gubernur DKI, tanpa basa-basi langsung menutupnya. Jadi ketegasan itu tidak diukur dari apakah dia militer atau sipil; dan kejujuran juga tidak diukur dari apakah dia muslim atau bukan. Orang yang jujur, cerdas, tulus dan berani mati seperti Ahok ini yang kita perlukan untuk membenahi Jakarta. Tidak peduli apa agama dan etnisnya.
Saya bukan dan tidak pernah menjadi fans-nya ibu Megawati. Namun untuk PILPRES 2014 ini, kurang fair rasanya jika saya tidak memberikan apresiasi kepada Ibu Mega. Beliau adalah satu-satunya ketua partai yang tidak mencalonkan dirinya menjadi presiden. PDIP sering diidentikkan dengan keluarga Sukarno. Ibu Mega memiliki kesempatan dan kekuasaan untuk mencalonkan dirinya menjadi capres, namun dengan legowo ia serahkan posisi tersebut kepada Jokowi yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan keluarga Sukarno. Untuk menjaga keberlanjutan trah Sukarno, maka sangat logis jika Puan Maharani menjadi cawapres. Namun lagi-lagi dengan legowo, posisi cawapres diberikan kepada Jusuf Kalla, orang di luar PDIP. Saya sangat respek dengan sikap ibu Megawati tersebut, apalagi di tengah-tengah ambisi semua ketua partai politik yang berlomba-lomba ingin menjadi capres dan cawapres.
Ketika diresmikan menjadi capres, Jokowi menegaskan bahwa tidak akan ada bagi-bagi jatah kursi menteri dengan parpol koalisinya. Dia akan memilih sendiri menterinya dengan penilaian kapasitas dan kualitas. Yang ingin bergabung dengan koalisi PDIP, maka ia harus bergabung tanpa syarat, tanpa meminta jatah cawapres atau menteri. Terbukti, baik ketua partai NASDEM, PKB maupun HANURA, tidak ada satupun yang menjadi cawapres. Jokowi membuktikan bahwa dirinya memiliki sikap tegas, karena tegas itu bukan diukur dari suara yang tinggi berapi-api, tapi dari keputusan yang tidak mengenal kompromi.
MataNajwa edisi “Jokowi atau Prabowo” yang ditayangkan METRO TV tanggal 28 Mei yang lalu membuka mata banyak orang tentang siapa orang-orang di balik Jokowi dan Prabowo. Sebagian kawan yang tadinya masih bingung, akhirnya menetapkan pilihan setelah melihat tayangan tersebut. Kubu Prabowo mengirimkan dua orang terbaiknya, Mahfud M.D. (Ketua Tim Pemenangan Prabowo – Hatta) dan Fadli Zon (Wakil Ketua Umum GERINDRA dan Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo – Hatta). Tidak ada orang yang jabatannya lebih tinggi dari kedua orang ini di kubu Prabowo. Kehadiran mereka berdua dilengkapi oleh Ahmad Yani (Ketua DPP PPP).
Sementara kubu Jokowi diwakili oleh Anies Baswedan (Juru Bicara Tim Sukses Jokowi – JK), Maruarar Sirait (Ketua DPP PDIP), dan Adian Napitupulu (aktivis ’98 dan pendiri FORKOT). Bagi yang belum menonton, berikut link rekaman-nya: http://youtu.be/k-f7dEuydR0
Banyak orang yang memuji Pak Anies Baswedan karena penuturannya yang sangat baik, santun dan sistematis. Namun bagi saya informasi yang paling krusial malam itu adalah pemaparan Pak Mahfud M.D. yang membeberkan secara blak-blakan bahwa ia memilih bergabung ke kubu Prabowo karena sakit hati dengan PKB dan Pak Muhaimin Iskandar. Keputusan ini memiliki beban psikologis yang sangat berat ujar Pak Mahfud, sampai ia harus mengalami pergolakan batin selama tiga hari tiga malam, bahkan sampai mengucurkan air mata. Berbeda sekali dengan Pak Anies Baswedan yang dengan sangat rileks mengatakan “simpel”, tidak ada beban moral sama sekali ketika memutuskan pilihan kepada Jokowi – JK.
Pak Mahfud yang lugu kemudian membuka rahasia koalisi bahwa Fadli Zon mengatakan kepada dirinya, sebenarnya dalam hatinya Fadli Zon ingin Pak Mahfud yang menjadi cawapres bukan Pak Hatta. Bagi Fadli Zon “rayuan gombal” semacam itu adalah praktek yang biasa, karenanya seringkali kata-katanya tidak bisa dipegang dan dipertanggungjawabkan. Saya sangat bersimpati kepada Pak Mahmud yang lugu. Benar kata banyak orang, janganlah belanja dikala lapar. Janganlah membuat keputusan dikala sakit hati.
Hal lain yang santer dikampanyekan untuk menyerang Jokowi adalah ia pemimpin yang ingkar janji dan tidak jujur, karena belum dua tahun memimpin Jakarta sudah pergi mencalonkan menjadi presiden R.I. Sedangkal itukah definisi jujur dan ingkar janji? Sedangkal itukah kriteria yang kita gunakan dalam memilih calon presiden yang akan menentukan nasib 240 juta penduduk Indonesia? Fadli Zon yang selama ini sangat agresif menyerang Jokowi, tidak pernah bosan mengulang-ulang retorika “ingkar janji”.
Namun ketika Bang Ara mengatakan, bahwa Fadli Zon dan partai Gerindra lah yang memboyong Jokowi dari Solo dan mencalonkannya menjadi gubernur DKI Jakarta padahal masa tugasnya sebagai walikota Solo masih tiga tahun lagi, Fadli Zon harus menelan ludahnya sendiri. Mengapa Fadli Zon, seringkali tidak bisa jujur terhadap kata-kata yang diucapkannya? Sebagian dari kita tentu masih ingat ketika Prabowo mengatakan bahwa Fadli Zon sangat cocok untuk menjadi menteri pendidikan (Kompas, 12 Juli 2013). Apa jadinya anak-anak kita nanti, jika menteri pendidikan-nya memiliki sifat dan watak seperti Fadli Zon? Saya membayangkan menteri pendidikan itu seharusnya orangnya santun, cerdas, dan memiliki jiwa pendidik dan integritas moral yang tinggi seperti Pak Arief Rachman atau Pak Anies Baswedan.
Pak Jokowi tidak meninggalkan Jakarta. Tapi ia akan membangun Jakarta bukan dari balai kota, tapi dari istana negara. Seperti yang pernah beliau contohkan, untuk mengatasi macet di Jakarta, yang perlu dibangun bukan hanya di Jakarta saja, tapi harus disambungkan dengan Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Gubernur Jakarta tidak bisa mengkoordinir itu semua, semua kepala daerah harus setuju dan menandatanganinya. Contoh kongkrit adalah otoritas transportasi Jabodetabek yang sudah hampir 1,5 tahun tapi tidak pernah selesai karena masalah wewenang dan koordinasi. Jika ia menjadi presiden maka segalanya akan jauh lebih mudah, karena semua kepala daerah berada di bawahnya.
Pada Pilkada kota Solo yang pertama Jokowi meraup 36,62% suara, dan didaulat menjadi walikota Solo selama lima tahun (2005 - 2010). Tahun 2010, ia mencalonkan kembali, dan meraup persentase suara sebesar 90,09%. Artinya Jokowi berhasil membuktikan kinerjanya di Solo, dan rakyat memilihnya kembali. Oleh karena itulah Fadli Zon dan partai Gerindra memboyong Jokowi ke Jakarta untuk dicalonkan menjadi Gubernur DKI walaupun masa baktinya masih tiga tahun lagi, karena urgensi Jakarta sebagai ibu kota lebih besar. Ketika itu, ia tidak pernah melabeli Jokowi dengan sebutan pemimpin ingkar janji.
Terakhir, saya ingin mengutip pesan Pak Anies Baswedan, “Kalau Anda ingin menjadi pemimpin, lakukan sesuatu bagi rakyat, lakukan kerja untuk masyarakat. Bukan semata-mata menggunakan dana untuk berkampanye dengan nilai yang fantastis. Dana yang sama bisa dilakukan untuk petani, nelayan, untuk pendidikan, daripada untuk beriklan selama bertahun-tahun. Kita membutuhkan orang yang bukan memburu kekuasaan. Berikan amanat itu justeru kepada orang yang tidak memburu amanat itu.”
Saya tidak punya afiliasi dengan partai politik manapun. Saya juga bukan bagian dari tim sukses manapun. Sejujurnya saya ingin bergabung dengan tim relawan Jokowi, namun kesibukan saya yang cukup padat dalam 2 – 3 bulan ke depan membuat saya tidak bisa melakukannya. Namun demikian, mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa memberikan pencerahan bagi teman-teman yang masih galau dalam menentukan pilihannya.
Sebagian orang berkata percuma kita menulis, toh hasilnya tidak akan memiliki dampak apa-apa. Siapa sih yang akan baca tulisan kita, paling cuma segelintir orang dibanding julah pemilih yang hampir 185 juta orang. Walaupun prosentasenya hanya 1/1.000.000, namun saya tetap memilih untuk menulis. Karena walaupun amat sangat kecil, saya ingin ikut serta berkontribusi dalam membangun negeri ini. Saya menulis semua ini atas inisiatif dan kesadaran pribadi, tanpa ada insentif sepeser pun dari pihak manapun.
Bagi yang merasa tulisan ini membawa manfaat, silahkan disebarkan. Tidak perlu minta ijin kepada saya. Mudah-mudahan PEMILU 2014 berjalan lancar dan damai, dan kita dikaruniai oleh Allah SWT pemimpin yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Amien.
Dari Bandung untuk Indonesia,
Maulana M. Syuhada
Pengunjung setia perpus ITB


Mereka yang melek informasi tahu bahwa Jokowi adalah seorang muslim. Orang tua dan semua adik-adiknya sudah berhaji. Kampanye hitam yang menyerang keislaman Jokowi menjadi bumerang ketika terungkap bahwa Ibu dari Prabowo beragama Kristen, begitu pula dengan kakak dan adiknya, semuanya beragama Kristen. Adik prabowo, Hashim S. Djojohadikusumo, merupakan Ketua Dewan Pembina KIRA (Kristen Indonesia Raya), organisasi sayap Kristen partai GERINDRA (kepengurusan KIRA dapat dilihat pada situs resmi KIRA di http://www.kiragerindra.org/index.php/content/page/11)
Walau Jokowi terbukti seorang muslim, bagi sebagian muslim itu tidak cukup, karena di belakangnya ada PDIP. Bagi mereka, PDIP adalah partai Kristen, sehingga mendukung Jokowi sama saja dengan mendukung Kristen. Padahal kita semua tahu bahwa baik PDIP maupun GERINDRA, keduanya bukanlah partai Kristen.
Saya tidak pernah menjadi simpatisan partai manapun. Saya malah cenderung apatis terhadap partai politik. Hal ini merupakan dampak dari kekecewaan saya terhadap tingkah-laku sebagian anggota DPR yang korup dan seringkali tidak berpihak pada rakyat. Jadi bagi saya sama saja, apakah itu partai islam atau partai nasionalis, semuanya bermasalah. Ketua Partai Demokrat tersangkut korupsi Hambalang, presiden PKS tersangkut korupsi sapi, ketua PPP tersangkut korupsi haji, ketua Partai Golkar tersangkut kasus lumpur, ketua Partai Gerindra pernah dipecat dari TNI, dan sebagainya. Semua hal di atas bukanlah rumor, tapi fakta. Jadi tidak ada satu pun partai di Indonesia ini yang bebas dari masalah.
Saya bukan fans-nya PDIP dan tidak pernah seumur hidup pun (sampai sekarang) menjadi simpatisan PDIP. Namun harus saya akui secara objektif bahwa PDIP membuat terobosan baru dengan menghadirkan Ibu Risma di Surabaya, Pak Ganjar di Jawa Tengah, serta Pak Jokowi di Solo dan DKI. Saya juga mengapresiasi GERINDRA yang mengusung Ahok di DKI dan Ridwan Kamil di Bandung. Ketika PILKADA dan PILEG, saya tidak peduli dengan partai pengusungnya. Bagi saya semua partai politik sama bobroknya. Yang saya lihat adalah tokohnya. Karenanya di PILEG kemarin, tiga tokoh yang saya pilih untuk DPR, DPRD I dan DPRD II, berasal dari tiga partai yang berbeda.
Sebagian orang masih saja mempermasalahkan bahwa jika Jokowi menjadi presiden, maka Ahok yang diusung oleh GERINDRA di PILKADA DKI Jakarta akan menjadi gubernur. Padahal Ahok itu non-muslim dan keturunan Tionghoa.
Kalau Ahok non-muslim dan keturunan Tionghoa memangnya kenapa? Sepanjang ia jujur, cerdas, tulus dan punya nyali untuk memberantas korupsi dan berbagai penyimpangan, kenapa harus dipermasalahkan agama dan keturunannya. Gubernur DKI sebelumnya tidak ada yang berani menyentuh Tanah Abang, tapi Ahok dengan keberaniannya membereskan Tanah Abang. DISKOTIK STADIUM di Jakarta sudah berdiri 16 tahun, dan menjadi sarang maksiat, transaksi seks dan narkoba, namun tidak ada satu pun gubernur Jakarta (yang notabene selalu muslim) yang berani menutupnya, bahkan seorang Gubernur Jakarta yang berlatar belakang jenderal militer sekalipun seperti Bang Yos. Tapi Ahok, begitu mendapat mandat menjadi Plt Gubernur DKI, tanpa basa-basi langsung menutupnya. Jadi ketegasan itu tidak diukur dari apakah dia militer atau sipil; dan kejujuran juga tidak diukur dari apakah dia muslim atau bukan. Orang yang jujur, cerdas, tulus dan berani mati seperti Ahok ini yang kita perlukan untuk membenahi Jakarta. Tidak peduli apa agama dan etnisnya.
Saya bukan dan tidak pernah menjadi fans-nya ibu Megawati. Namun untuk PILPRES 2014 ini, kurang fair rasanya jika saya tidak memberikan apresiasi kepada Ibu Mega. Beliau adalah satu-satunya ketua partai yang tidak mencalonkan dirinya menjadi presiden. PDIP sering diidentikkan dengan keluarga Sukarno. Ibu Mega memiliki kesempatan dan kekuasaan untuk mencalonkan dirinya menjadi capres, namun dengan legowo ia serahkan posisi tersebut kepada Jokowi yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan keluarga Sukarno. Untuk menjaga keberlanjutan trah Sukarno, maka sangat logis jika Puan Maharani menjadi cawapres. Namun lagi-lagi dengan legowo, posisi cawapres diberikan kepada Jusuf Kalla, orang di luar PDIP. Saya sangat respek dengan sikap ibu Megawati tersebut, apalagi di tengah-tengah ambisi semua ketua partai politik yang berlomba-lomba ingin menjadi capres dan cawapres.
Ketika diresmikan menjadi capres, Jokowi menegaskan bahwa tidak akan ada bagi-bagi jatah kursi menteri dengan parpol koalisinya. Dia akan memilih sendiri menterinya dengan penilaian kapasitas dan kualitas. Yang ingin bergabung dengan koalisi PDIP, maka ia harus bergabung tanpa syarat, tanpa meminta jatah cawapres atau menteri. Terbukti, baik ketua partai NASDEM, PKB maupun HANURA, tidak ada satupun yang menjadi cawapres. Jokowi membuktikan bahwa dirinya memiliki sikap tegas, karena tegas itu bukan diukur dari suara yang tinggi berapi-api, tapi dari keputusan yang tidak mengenal kompromi.
MataNajwa edisi “Jokowi atau Prabowo” yang ditayangkan METRO TV tanggal 28 Mei yang lalu membuka mata banyak orang tentang siapa orang-orang di balik Jokowi dan Prabowo. Sebagian kawan yang tadinya masih bingung, akhirnya menetapkan pilihan setelah melihat tayangan tersebut. Kubu Prabowo mengirimkan dua orang terbaiknya, Mahfud M.D. (Ketua Tim Pemenangan Prabowo – Hatta) dan Fadli Zon (Wakil Ketua Umum GERINDRA dan Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo – Hatta). Tidak ada orang yang jabatannya lebih tinggi dari kedua orang ini di kubu Prabowo. Kehadiran mereka berdua dilengkapi oleh Ahmad Yani (Ketua DPP PPP).
Sementara kubu Jokowi diwakili oleh Anies Baswedan (Juru Bicara Tim Sukses Jokowi – JK), Maruarar Sirait (Ketua DPP PDIP), dan Adian Napitupulu (aktivis ’98 dan pendiri FORKOT). Bagi yang belum menonton, berikut link rekaman-nya: http://youtu.be/k-f7dEuydR0
Banyak orang yang memuji Pak Anies Baswedan karena penuturannya yang sangat baik, santun dan sistematis. Namun bagi saya informasi yang paling krusial malam itu adalah pemaparan Pak Mahfud M.D. yang membeberkan secara blak-blakan bahwa ia memilih bergabung ke kubu Prabowo karena sakit hati dengan PKB dan Pak Muhaimin Iskandar. Keputusan ini memiliki beban psikologis yang sangat berat ujar Pak Mahfud, sampai ia harus mengalami pergolakan batin selama tiga hari tiga malam, bahkan sampai mengucurkan air mata. Berbeda sekali dengan Pak Anies Baswedan yang dengan sangat rileks mengatakan “simpel”, tidak ada beban moral sama sekali ketika memutuskan pilihan kepada Jokowi – JK.
Pak Mahfud yang lugu kemudian membuka rahasia koalisi bahwa Fadli Zon mengatakan kepada dirinya, sebenarnya dalam hatinya Fadli Zon ingin Pak Mahfud yang menjadi cawapres bukan Pak Hatta. Bagi Fadli Zon “rayuan gombal” semacam itu adalah praktek yang biasa, karenanya seringkali kata-katanya tidak bisa dipegang dan dipertanggungjawabkan. Saya sangat bersimpati kepada Pak Mahmud yang lugu. Benar kata banyak orang, janganlah belanja dikala lapar. Janganlah membuat keputusan dikala sakit hati.
Hal lain yang santer dikampanyekan untuk menyerang Jokowi adalah ia pemimpin yang ingkar janji dan tidak jujur, karena belum dua tahun memimpin Jakarta sudah pergi mencalonkan menjadi presiden R.I. Sedangkal itukah definisi jujur dan ingkar janji? Sedangkal itukah kriteria yang kita gunakan dalam memilih calon presiden yang akan menentukan nasib 240 juta penduduk Indonesia? Fadli Zon yang selama ini sangat agresif menyerang Jokowi, tidak pernah bosan mengulang-ulang retorika “ingkar janji”.
Namun ketika Bang Ara mengatakan, bahwa Fadli Zon dan partai Gerindra lah yang memboyong Jokowi dari Solo dan mencalonkannya menjadi gubernur DKI Jakarta padahal masa tugasnya sebagai walikota Solo masih tiga tahun lagi, Fadli Zon harus menelan ludahnya sendiri. Mengapa Fadli Zon, seringkali tidak bisa jujur terhadap kata-kata yang diucapkannya? Sebagian dari kita tentu masih ingat ketika Prabowo mengatakan bahwa Fadli Zon sangat cocok untuk menjadi menteri pendidikan (Kompas, 12 Juli 2013). Apa jadinya anak-anak kita nanti, jika menteri pendidikan-nya memiliki sifat dan watak seperti Fadli Zon? Saya membayangkan menteri pendidikan itu seharusnya orangnya santun, cerdas, dan memiliki jiwa pendidik dan integritas moral yang tinggi seperti Pak Arief Rachman atau Pak Anies Baswedan.
Pak Jokowi tidak meninggalkan Jakarta. Tapi ia akan membangun Jakarta bukan dari balai kota, tapi dari istana negara. Seperti yang pernah beliau contohkan, untuk mengatasi macet di Jakarta, yang perlu dibangun bukan hanya di Jakarta saja, tapi harus disambungkan dengan Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Gubernur Jakarta tidak bisa mengkoordinir itu semua, semua kepala daerah harus setuju dan menandatanganinya. Contoh kongkrit adalah otoritas transportasi Jabodetabek yang sudah hampir 1,5 tahun tapi tidak pernah selesai karena masalah wewenang dan koordinasi. Jika ia menjadi presiden maka segalanya akan jauh lebih mudah, karena semua kepala daerah berada di bawahnya.
Pada Pilkada kota Solo yang pertama Jokowi meraup 36,62% suara, dan didaulat menjadi walikota Solo selama lima tahun (2005 - 2010). Tahun 2010, ia mencalonkan kembali, dan meraup persentase suara sebesar 90,09%. Artinya Jokowi berhasil membuktikan kinerjanya di Solo, dan rakyat memilihnya kembali. Oleh karena itulah Fadli Zon dan partai Gerindra memboyong Jokowi ke Jakarta untuk dicalonkan menjadi Gubernur DKI walaupun masa baktinya masih tiga tahun lagi, karena urgensi Jakarta sebagai ibu kota lebih besar. Ketika itu, ia tidak pernah melabeli Jokowi dengan sebutan pemimpin ingkar janji.
Terakhir, saya ingin mengutip pesan Pak Anies Baswedan, “Kalau Anda ingin menjadi pemimpin, lakukan sesuatu bagi rakyat, lakukan kerja untuk masyarakat. Bukan semata-mata menggunakan dana untuk berkampanye dengan nilai yang fantastis. Dana yang sama bisa dilakukan untuk petani, nelayan, untuk pendidikan, daripada untuk beriklan selama bertahun-tahun. Kita membutuhkan orang yang bukan memburu kekuasaan. Berikan amanat itu justeru kepada orang yang tidak memburu amanat itu.”
Saya tidak punya afiliasi dengan partai politik manapun. Saya juga bukan bagian dari tim sukses manapun. Sejujurnya saya ingin bergabung dengan tim relawan Jokowi, namun kesibukan saya yang cukup padat dalam 2 – 3 bulan ke depan membuat saya tidak bisa melakukannya. Namun demikian, mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa memberikan pencerahan bagi teman-teman yang masih galau dalam menentukan pilihannya.
Sebagian orang berkata percuma kita menulis, toh hasilnya tidak akan memiliki dampak apa-apa. Siapa sih yang akan baca tulisan kita, paling cuma segelintir orang dibanding julah pemilih yang hampir 185 juta orang. Walaupun prosentasenya hanya 1/1.000.000, namun saya tetap memilih untuk menulis. Karena walaupun amat sangat kecil, saya ingin ikut serta berkontribusi dalam membangun negeri ini. Saya menulis semua ini atas inisiatif dan kesadaran pribadi, tanpa ada insentif sepeser pun dari pihak manapun.
Bagi yang merasa tulisan ini membawa manfaat, silahkan disebarkan. Tidak perlu minta ijin kepada saya. Mudah-mudahan PEMILU 2014 berjalan lancar dan damai, dan kita dikaruniai oleh Allah SWT pemimpin yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Amien.
Dari Bandung untuk Indonesia,
Maulana M. Syuhada
Pengunjung setia perpus ITB
Sumber: Kampanye Prabowo Subianto di Stadion GBK Senayan (sumber: detik.com - 23/3/2014)
Sumber: Jokowi meninjau perekembangan pembangunan Waduk Ria Rio (sumber: tempo.co - 26/9/2013)
"mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walau kaum kafir membencinya" (QS 61:8)
banyak orang Muslim, tapi nggak paham Islam | banyak orang Muslim, tapi nggak amalkan Islam
padahal diluar Islam, banyak orang berpikir dan akhirnya masuk Islam | karena kagum dengan Islam dan terkesima sama dasar agama Islam
bagi orang yang diluar Islam lalu memeluk Islam | dasar-dasar agama dalam Islam itu jelas | sayang banyak Muslim justru tak paham
sekarang banyak Muslim justru sekuler, dan mempertanyakan keabsahan Islam | padahal ilmunya nggak ada apa-apanya dibanding ulama terdahulu
lebih parah lagi, banyak yang dikatakan "pimpinan" Muslim | yang merasa modern dan keren bila mengambil pemikiran-pemikiran diluar Islam
penyakit mental terjajah, hasil jajahan 350 tahun Belanda | jadinya jumawa dan kebarat-baratan | senang bila dipuji-puji orang kafir
"pemimpin-pemimpin" Muslim ini mengatakan | ini 'Islam ala Indonesia', 'ini Islam Kekinian' | merasa lebih tau dari Allah yang punya agama
padahal Islam itu diturunkan sempurna dan paripurna pada zaman Rasulullah Muhammad | tak perlu penambahan atau pengurangan atau perubahan
adapun tatacara, syariat Islam sudah diatur oleh Allah | untuk bisa menyesuaikan dengan wasilah (perantaraan) apapun sesuai teknologi
Al-Qur'an dan Al-Hadits lah yang sudah final, selainnya tiada yang final | Al-Qur'an dan Al-Hadits lah yang tetap, yang lain bisa berubah
sehingga lucu bila ada Muslim menganggap ada kebenaran diluar Islam | aneh bila merasa ada kebenaran diluar Al-Qur'an dan As-Sunnah
pelajarilah Islam, Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai sumbernya | bila perlu figur panutan, cukup Rasul, sahabat, tabiin dan tabiut-tabiin
bila ada figur Muslim namun membatalkan apa yang diwajibkan Rasulullah | kita sudah tahu bahwa Rasulullah-lah panutan jalan ke surga
Rasulullah terapkan hukum syariat secara total dalam satu kepemimpinan | ada Muslim yang menolak konsep ini? abaikan
Allah mencela riba dan pelakunya, Rasulullah memberantas praktek riba | ada Muslim yang memfatwakan bolehnya riba? abaikan saja
Rasulullah wajibkan hijab bagi istri, anak, dan Muslimah | tapi ada figur Muslim yang memfatwakan hijab tak wajib | yang begini, abaikan
Rasulullah berjihad (berperang) fii sabilillah puluhan kali dalam hidupnya | bila ada yang bilang jihad sekarang nggak ada? | abaikan saja
betul, intepretasi dari ayat Allah dan hadits perlu dilakukan | dan bagi kita sudah cukup sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin saja
karena sahabat, tabiin, dan tabiut-tabiin tentu lebih paham bagaimana praktik Rasulullah | karena mereka lebih dekat zamannya dan ilmunya
maka untuk urusan Al-Qur'an, tafsir karya Ibnu Katsir, Thabari, atau Jalalain tentu jauh lebih terpercaya | dibanding tafsir baru-baru ini
untuk hadits, tentu Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, dan muhadditsin lainnya | jauh lebih berhak atas 'shahih' tidaknya satu hadits
namun alhamdulillah, masih banyak diantara hamba Allah yang takut pada-Nya, taat pada-Nya | yang mengabdikan diri pada agama Allah
dan kami walau tak termasuk ulama, insyaAllah akan terus khidmatkan diri pada agama Allah | agar ummat dekat pada ulama-ulama yang baik
subhanAllah, semoga kita terus dijaga Allah dari dunia dan orang-orang yang tak suka pada kebenaran | didekatkan dengan ilmu dan ulama
sebagai penutup kalam ini, kami sampaikan sepetik ayat | mudah-mudahan menyemangati kita bahwa Allah pasti menolong kita
"mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walau kaum kafir membencinya" (QS 61:8)
padahal diluar Islam, banyak orang berpikir dan akhirnya masuk Islam | karena kagum dengan Islam dan terkesima sama dasar agama Islam
bagi orang yang diluar Islam lalu memeluk Islam | dasar-dasar agama dalam Islam itu jelas | sayang banyak Muslim justru tak paham
sekarang banyak Muslim justru sekuler, dan mempertanyakan keabsahan Islam | padahal ilmunya nggak ada apa-apanya dibanding ulama terdahulu
lebih parah lagi, banyak yang dikatakan "pimpinan" Muslim | yang merasa modern dan keren bila mengambil pemikiran-pemikiran diluar Islam
penyakit mental terjajah, hasil jajahan 350 tahun Belanda | jadinya jumawa dan kebarat-baratan | senang bila dipuji-puji orang kafir
"pemimpin-pemimpin" Muslim ini mengatakan | ini 'Islam ala Indonesia', 'ini Islam Kekinian' | merasa lebih tau dari Allah yang punya agama
padahal Islam itu diturunkan sempurna dan paripurna pada zaman Rasulullah Muhammad | tak perlu penambahan atau pengurangan atau perubahan
adapun tatacara, syariat Islam sudah diatur oleh Allah | untuk bisa menyesuaikan dengan wasilah (perantaraan) apapun sesuai teknologi
Al-Qur'an dan Al-Hadits lah yang sudah final, selainnya tiada yang final | Al-Qur'an dan Al-Hadits lah yang tetap, yang lain bisa berubah
sehingga lucu bila ada Muslim menganggap ada kebenaran diluar Islam | aneh bila merasa ada kebenaran diluar Al-Qur'an dan As-Sunnah
pelajarilah Islam, Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai sumbernya | bila perlu figur panutan, cukup Rasul, sahabat, tabiin dan tabiut-tabiin
bila ada figur Muslim namun membatalkan apa yang diwajibkan Rasulullah | kita sudah tahu bahwa Rasulullah-lah panutan jalan ke surga
Rasulullah terapkan hukum syariat secara total dalam satu kepemimpinan | ada Muslim yang menolak konsep ini? abaikan
Allah mencela riba dan pelakunya, Rasulullah memberantas praktek riba | ada Muslim yang memfatwakan bolehnya riba? abaikan saja
Rasulullah wajibkan hijab bagi istri, anak, dan Muslimah | tapi ada figur Muslim yang memfatwakan hijab tak wajib | yang begini, abaikan
Rasulullah berjihad (berperang) fii sabilillah puluhan kali dalam hidupnya | bila ada yang bilang jihad sekarang nggak ada? | abaikan saja
betul, intepretasi dari ayat Allah dan hadits perlu dilakukan | dan bagi kita sudah cukup sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin saja
karena sahabat, tabiin, dan tabiut-tabiin tentu lebih paham bagaimana praktik Rasulullah | karena mereka lebih dekat zamannya dan ilmunya
maka untuk urusan Al-Qur'an, tafsir karya Ibnu Katsir, Thabari, atau Jalalain tentu jauh lebih terpercaya | dibanding tafsir baru-baru ini
untuk hadits, tentu Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, dan muhadditsin lainnya | jauh lebih berhak atas 'shahih' tidaknya satu hadits
namun alhamdulillah, masih banyak diantara hamba Allah yang takut pada-Nya, taat pada-Nya | yang mengabdikan diri pada agama Allah
dan kami walau tak termasuk ulama, insyaAllah akan terus khidmatkan diri pada agama Allah | agar ummat dekat pada ulama-ulama yang baik
subhanAllah, semoga kita terus dijaga Allah dari dunia dan orang-orang yang tak suka pada kebenaran | didekatkan dengan ilmu dan ulama
sebagai penutup kalam ini, kami sampaikan sepetik ayat | mudah-mudahan menyemangati kita bahwa Allah pasti menolong kita
"mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walau kaum kafir membencinya" (QS 61:8)
Negeri Tanpa Ayah...
1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola
2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar ‘membuat’ anak
3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi
4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja
5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah
6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?
7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab
8| AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya
9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya
10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya
11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country
12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?
13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi
14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya
15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli
16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH
17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak
18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya
19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi
20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.
21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut
22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid
23| Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH
24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan
25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid
26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya
27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya
28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’
29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya
30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak
31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika
32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama
33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi
34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH
source
2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar ‘membuat’ anak
3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi
4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja
5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah
6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?
7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab
8| AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya
9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya
10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya
11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country
12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?
13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi
14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya
15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli
16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH
17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak
18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya
19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi
20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.
21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut
22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid
23| Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH
24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan
25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid
26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya
27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya
28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’
29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya
30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak
31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika
32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama
33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi
34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH
source
...bahwa kalian menang itu tentu penting, tapi lebih penting cara kalian menang membanggakan
Surat Terbuka untuk Timnas U-19
Timo Scheunemann - detikSport
Dear adik-adik timnas U-19,
Terima kasih kalian semua telah membanggakan sekaligus menyenangkan hati masyarakat bola Indonesia. Bahwa kalian menang itu tentu penting, tapi lebih penting cara kalian menang membanggakan. Kalian bermain penuh determinasi pantang menyerah, bermain penuh tenaga sepanjang pertandingan (yang menunjukkan kedisiplinan gaya hidup kalian di luar lapangan), serta semangat nasionalisme yang menggelora.
Memang tidak ada gading yang tak retak. Begitu juga dengan permainan kalian secara tim dan individu masih perlu dan bisa diperbaiki. Ketenangan dalam bermain (sehingga salah umpan bisa direduksi), serta ketenangan secara mental psikologis (sehingga pelanggaran keras yang berpotensi merusak hasil akhir bisa berkurang drastis) adalah hal-hal utama yang, in my humble opinion, perlu dibenahi.
Saya yakin kalian bisa. Yang pasti kalianlah trendsetter kualitas timnas Indonesia saat ini. Artinya, cara bermain seperti yang kalian tunjukan adalah cara bermain yang ingin dilihat masyarakat bola Indonesia untuk semua timnas Indonesia. Karena itu julukan yang tepat untuk kalian bukan "KW 19" seperti yang sempat terlontar dari mulut salah satu petinggi PSSI, tapi "KU 19 Garuda Jaya" karena kalian juga bertindak sebagai trendsetter kejayaan Garuda. Harapan saya, masyarakat luas dan kalian sendiri tentunya adalah kesuksesan kalian saat ini bisa menjadi titik awal kejayaan Garuda di masa-masa mendatang.
Tapi jangan salah, ini adalah titik awal. That's it!
Kalau kalian sekarang mulai merasa jumawa akan jelek hasilnya di Piala Asia U-19 setahun ke depan. Di sana sudah menanti tim-tim top Asia. Lawan yang kalian kalahkan pun seperti Vietnam dan Korsel akan berbenah dalam kurun waktu yang ada. Ingat statement pelatih Korsel. Setelah secara gentle memuji tim dan pelatih ia kemudian menebar ancaman yang menurut saya bukan omong kosong; "Hari ini Indonesia bermain luar biasa dan tim kami underperform sehingga Indonesia layak menang. Tapi lihat setahun dari sekarang, hasilnya akan beda."
Lalu, haruskah kalian takut akan ancaman Korsel dan kedigjayaan tim-tim top Asia lain nanti? Tentu tidak. Ingat, kalian "Garuda Jaya!" Tapi syarat mutlaknya adalah kalian menjadi trendsetter baru lagi. Kali ini dalam hal tidak cepat puas. Kalau kalian bisa lapar dan terus lapar meraih hasil (dan permainan!) terbaik di AFC U-19 nanti, sehingga kalian bisa tampil di Piala Dunia U-20 tahun 2015... WOW! Lebih wow lagi kalau kalian bisa terus lapaaaar untuk di kemudian hari juga sukses bersama timnas senior. Itu lebih WOW lagi! Mengapa? Karena dengan begitu kalian telah sukses memecah "kutukan" yang dialami begitu banyak pemain Indonesia, mulai dari level desa sampai level timnas, yaitu "kutukan" cepat puas.
Begitu banyak pemain Indonesia tidak pernah mencapai potensinya karena "kutukan" cepat puas itu tadi. Ujung-ujungnya kualitas dan kesuksesan timnas senior menderita karenanya. Kualitas dan pencapaian timnas senior selama ini jarang mencapai potensinya.
Kalian bisa bisa mendobrak dan menginjak-injak "kutukan" picisan itu. Kalian bisa menjadi trendsetter baru dalam hal tidak pernah puas!
Kalau kalian lapaaar kalian akan 'LAAARR' meledak (mencapai potensi kalian)!
Terima kasih kalian semua telah membanggakan sekaligus menyenangkan hati masyarakat bola Indonesia. Bahwa kalian menang itu tentu penting, tapi lebih penting cara kalian menang membanggakan. Kalian bermain penuh determinasi pantang menyerah, bermain penuh tenaga sepanjang pertandingan (yang menunjukkan kedisiplinan gaya hidup kalian di luar lapangan), serta semangat nasionalisme yang menggelora.
Memang tidak ada gading yang tak retak. Begitu juga dengan permainan kalian secara tim dan individu masih perlu dan bisa diperbaiki. Ketenangan dalam bermain (sehingga salah umpan bisa direduksi), serta ketenangan secara mental psikologis (sehingga pelanggaran keras yang berpotensi merusak hasil akhir bisa berkurang drastis) adalah hal-hal utama yang, in my humble opinion, perlu dibenahi.
Saya yakin kalian bisa. Yang pasti kalianlah trendsetter kualitas timnas Indonesia saat ini. Artinya, cara bermain seperti yang kalian tunjukan adalah cara bermain yang ingin dilihat masyarakat bola Indonesia untuk semua timnas Indonesia. Karena itu julukan yang tepat untuk kalian bukan "KW 19" seperti yang sempat terlontar dari mulut salah satu petinggi PSSI, tapi "KU 19 Garuda Jaya" karena kalian juga bertindak sebagai trendsetter kejayaan Garuda. Harapan saya, masyarakat luas dan kalian sendiri tentunya adalah kesuksesan kalian saat ini bisa menjadi titik awal kejayaan Garuda di masa-masa mendatang.
Tapi jangan salah, ini adalah titik awal. That's it!
Kalau kalian sekarang mulai merasa jumawa akan jelek hasilnya di Piala Asia U-19 setahun ke depan. Di sana sudah menanti tim-tim top Asia. Lawan yang kalian kalahkan pun seperti Vietnam dan Korsel akan berbenah dalam kurun waktu yang ada. Ingat statement pelatih Korsel. Setelah secara gentle memuji tim dan pelatih ia kemudian menebar ancaman yang menurut saya bukan omong kosong; "Hari ini Indonesia bermain luar biasa dan tim kami underperform sehingga Indonesia layak menang. Tapi lihat setahun dari sekarang, hasilnya akan beda."
Lalu, haruskah kalian takut akan ancaman Korsel dan kedigjayaan tim-tim top Asia lain nanti? Tentu tidak. Ingat, kalian "Garuda Jaya!" Tapi syarat mutlaknya adalah kalian menjadi trendsetter baru lagi. Kali ini dalam hal tidak cepat puas. Kalau kalian bisa lapar dan terus lapar meraih hasil (dan permainan!) terbaik di AFC U-19 nanti, sehingga kalian bisa tampil di Piala Dunia U-20 tahun 2015... WOW! Lebih wow lagi kalau kalian bisa terus lapaaaar untuk di kemudian hari juga sukses bersama timnas senior. Itu lebih WOW lagi! Mengapa? Karena dengan begitu kalian telah sukses memecah "kutukan" yang dialami begitu banyak pemain Indonesia, mulai dari level desa sampai level timnas, yaitu "kutukan" cepat puas.
Begitu banyak pemain Indonesia tidak pernah mencapai potensinya karena "kutukan" cepat puas itu tadi. Ujung-ujungnya kualitas dan kesuksesan timnas senior menderita karenanya. Kualitas dan pencapaian timnas senior selama ini jarang mencapai potensinya.
Kalian bisa bisa mendobrak dan menginjak-injak "kutukan" picisan itu. Kalian bisa menjadi trendsetter baru dalam hal tidak pernah puas!
Kalau kalian lapaaar kalian akan 'LAAARR' meledak (mencapai potensi kalian)!
Ada banyak tips agar kalian bisa mencapai potensi kalian, tapi karena keterbatasan tempat saya sampaikan dua saja:
1. Latihan internsif dan berkualitas
Yang pertama tentu saja kalian harus terus berlatih. Tapi jangan asal latihan. Saat latihan harus serius. Tetap santai secara mental tapi serius menyimak dan melakukan instruksi pelatih secara 100%. Pelatih kalian adalah tipe pelatih yang saya ingin lebih "mewabah" di seantero nusantara, yakni pelatih jebolan kepelatihan UNJ yang tidak mengandalkan pengalamannya sebagai pemain semata sehingga cenderung "ngawur" dalam melatih. Ikuti arahan beliau sedetil-detilnya, secara 100%.
Jangan berlatih bersama tim saja. Saat ada waktu luang (awas overtraining) berlatihlah sendiri. Sebuah studi menunjukan bahwa keahlian dalam bidang apapun memerlukan 10.000 jam latihan. Jadi latihan secara individu (atau berdua bersama teman) sangat diperlukan guna mencapai magic number 10.000 jam itu tadi.
Saat berlatih sendiri asah terus fisik dan teknik kalian. Gunakan tembok. Dennis Bergkamp pernah berkata bahwa pelatih terbaik sepanjang karirnya adalah tembok rumahnya. Kualitas teknik kalian akan membaik dan itu akan membantu kalian bermain dengan lebih percaya diri dan tenang. Kualitas teknik, jam terbang dan tingkat kepercayaan diri memang teramat sangat mempengaruhi ketenangan dalam bermain.
Jangan lupa, latihan yang berkualitas (tidak asal latihan) dan intensif (berat, teratur, serius tapi santai serta bersama tim dan secara individu) mutlak harus ditopang oleh istirahat yang cukup di antara latihan dan asupan gizi yang oke. Itu mutlak hukumnya! Tidak bisa tidak, biasakan makan nasi merah dan makanan sejenisnya (karbohidrat jenis komplex), walau awalnya akan sulit. Jauhi camilan tidak bermutu. Itu semua tipu muslihat orang jualan; dibikin seenak mungkin padahal tidak ada gunanya bagi tubuh dan bahkan merugikan kesehatan.
2. Jaga sikap
Masukan kedua dari saya adalah jaga sikap (attitude) kalian. Semua berawal dan berakhir dengan sikap. Karakter yang bagus tidak mutlak diperlukan untuk meraih sukses sesaat tapi mutlak diperlukan untuk sukses yang bersifat jangka panjang.
Jaga sikap kalian. Maksud saya begini. Kalau ada tawaran iklan datang; syukuri. Namun, terimalah hanya apabila pihak sponsor mengerti bahwa kalian atlet (bukan bintang sinetron) sehingga tidak mengganggu proses latihan. Sebaiknya lakukan "side job" itu di saat jeda kompetisi. Dan yang terutama sebatas disyukuri saja, jangan sampai Anda menjadi sombong karenanya. Kalau takut sombong (Anda sendiri yang tahu betul kelebihan dan kelemahan karakter Anda) lebih baik ditolak saja. Dalam hitungan jangka pendek Anda akan kehilangan uang, tapi dalam hitungan jangka panjang Anda akan untung besar. Trust me, it works!. *Bercanda :D
Begitu juga saat klub-klub mengejar tanda tangan kalian. Sikapi dengan bijaksana; jangan melihat nilai kontrak dan nama besar klub semata, namun banyak cari info mengenai sikon (situasi-kondisi) di klub tersebut, terutama siapa pelatihnya. Berkualitaskah pelatihnya? Bagaimana reputasi sang pelatih dalam mengembangkan bakat pemain muda? Beranikah ia memainkan Anda sebagai pemain muda, ataukah bangku cadangan sudah menanti karena banyaknya pemain bintang di klub tersebut? Ini semua sangat penting demi kelangsungan karir Anda. Ingat, berpikirlah jangka panjang, hindari berpikir pendek.
Itu semua kalau kalian ingin karir kalian LARRR/ jebreet/ jegeerr/ membahana/ ahayy dan potensi kalian tercapai semaksimal mungkin. Maaf, sedikit bercanda, tapi maksud di belakangnya serius.
Semoga masukan-masukan di atas betul-betul kalian masukan ke hati kalian sehingga wujud hati kalian semakin berbentuk Garuda!
Masyarakat Indonesia mendambakan kalian mendobrak "kutukan" murahan bernama cepat puas. Jadikan ini semua titik awal, bukan "selingan" semata. Demi Indonesia bentuklah hati kalian menjadi wujud Garuda yang terus berdetak kencang dan melengkingkan kata "lapaaaarrr".
Wishing you all the best for your careers.
Salor (Salam Olahraga)!
===

* Tentang penulis lihat di sini
* Akun twitter: @coachtimo
* Website: www.coachtimo.org
1. Latihan internsif dan berkualitas
Yang pertama tentu saja kalian harus terus berlatih. Tapi jangan asal latihan. Saat latihan harus serius. Tetap santai secara mental tapi serius menyimak dan melakukan instruksi pelatih secara 100%. Pelatih kalian adalah tipe pelatih yang saya ingin lebih "mewabah" di seantero nusantara, yakni pelatih jebolan kepelatihan UNJ yang tidak mengandalkan pengalamannya sebagai pemain semata sehingga cenderung "ngawur" dalam melatih. Ikuti arahan beliau sedetil-detilnya, secara 100%.
Jangan berlatih bersama tim saja. Saat ada waktu luang (awas overtraining) berlatihlah sendiri. Sebuah studi menunjukan bahwa keahlian dalam bidang apapun memerlukan 10.000 jam latihan. Jadi latihan secara individu (atau berdua bersama teman) sangat diperlukan guna mencapai magic number 10.000 jam itu tadi.
Saat berlatih sendiri asah terus fisik dan teknik kalian. Gunakan tembok. Dennis Bergkamp pernah berkata bahwa pelatih terbaik sepanjang karirnya adalah tembok rumahnya. Kualitas teknik kalian akan membaik dan itu akan membantu kalian bermain dengan lebih percaya diri dan tenang. Kualitas teknik, jam terbang dan tingkat kepercayaan diri memang teramat sangat mempengaruhi ketenangan dalam bermain.
Jangan lupa, latihan yang berkualitas (tidak asal latihan) dan intensif (berat, teratur, serius tapi santai serta bersama tim dan secara individu) mutlak harus ditopang oleh istirahat yang cukup di antara latihan dan asupan gizi yang oke. Itu mutlak hukumnya! Tidak bisa tidak, biasakan makan nasi merah dan makanan sejenisnya (karbohidrat jenis komplex), walau awalnya akan sulit. Jauhi camilan tidak bermutu. Itu semua tipu muslihat orang jualan; dibikin seenak mungkin padahal tidak ada gunanya bagi tubuh dan bahkan merugikan kesehatan.
2. Jaga sikap
Masukan kedua dari saya adalah jaga sikap (attitude) kalian. Semua berawal dan berakhir dengan sikap. Karakter yang bagus tidak mutlak diperlukan untuk meraih sukses sesaat tapi mutlak diperlukan untuk sukses yang bersifat jangka panjang.
Jaga sikap kalian. Maksud saya begini. Kalau ada tawaran iklan datang; syukuri. Namun, terimalah hanya apabila pihak sponsor mengerti bahwa kalian atlet (bukan bintang sinetron) sehingga tidak mengganggu proses latihan. Sebaiknya lakukan "side job" itu di saat jeda kompetisi. Dan yang terutama sebatas disyukuri saja, jangan sampai Anda menjadi sombong karenanya. Kalau takut sombong (Anda sendiri yang tahu betul kelebihan dan kelemahan karakter Anda) lebih baik ditolak saja. Dalam hitungan jangka pendek Anda akan kehilangan uang, tapi dalam hitungan jangka panjang Anda akan untung besar. Trust me, it works!. *Bercanda :D
Begitu juga saat klub-klub mengejar tanda tangan kalian. Sikapi dengan bijaksana; jangan melihat nilai kontrak dan nama besar klub semata, namun banyak cari info mengenai sikon (situasi-kondisi) di klub tersebut, terutama siapa pelatihnya. Berkualitaskah pelatihnya? Bagaimana reputasi sang pelatih dalam mengembangkan bakat pemain muda? Beranikah ia memainkan Anda sebagai pemain muda, ataukah bangku cadangan sudah menanti karena banyaknya pemain bintang di klub tersebut? Ini semua sangat penting demi kelangsungan karir Anda. Ingat, berpikirlah jangka panjang, hindari berpikir pendek.
Itu semua kalau kalian ingin karir kalian LARRR/ jebreet/ jegeerr/ membahana/ ahayy dan potensi kalian tercapai semaksimal mungkin. Maaf, sedikit bercanda, tapi maksud di belakangnya serius.
Semoga masukan-masukan di atas betul-betul kalian masukan ke hati kalian sehingga wujud hati kalian semakin berbentuk Garuda!
Masyarakat Indonesia mendambakan kalian mendobrak "kutukan" murahan bernama cepat puas. Jadikan ini semua titik awal, bukan "selingan" semata. Demi Indonesia bentuklah hati kalian menjadi wujud Garuda yang terus berdetak kencang dan melengkingkan kata "lapaaaarrr".
Wishing you all the best for your careers.
Salor (Salam Olahraga)!
===
* Tentang penulis lihat di sini
* Akun twitter: @coachtimo
* Website: www.coachtimo.org
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2013/10/16/110119/2386743/1486/2/surat-terbuka-untuk-timnas-u-19
Antara Azan dan Sholat
Selesai makan siang, saya selalu mencari tempat yang agak
datar dan teduh di bawah pohon kayu. Dengan beralas selembar goni plastik yang
masih bersih dan sebotol air, saya mengambil wudhu untuk melakukan sholat
zuhur. Sesudah itu saya teruskan dengan membuat visual report, fit up report
dan lain-lainnya. Demikianlah saya lakukan setiap hari. Kalau tidak dibuat di
lokasi tempat bekerja ini, maka waktu sampai di office sore hari akan sangat sibuk
sekali. Semuanya harus dilakukan terburu-buru. Membuat laporan, mandi, makan ,
kemudian mengejar sholat maghrib berjamaah di musholla. Demikianlah saya
lakukan setiap hari di bumi Sarawak, Malaysia ini. Sebagai Welding Inspector di
projek pipeline ini saya harus membuat progress report setiap hari. Tidak boleh
terlambat. Kalau tertunda satu hari saja, reportnya akan bertumpuk. Merepotkan
diri sendiri. Tidak terasa sudah hampir 3 tahun berlalu bekerja di
bumi Sarawak ini. Pipelinenya sangat panjang sekali, 500 km lebih.
Sambil membuat report sekali-sekali mata saya melihat
semut-semut yang berjalan berbaris-baris
mencari makan dan memanjat naik ke atas pohon. Rukun dan dan rajin sekali
mereka berkerja. Saya merenung-renung dalam hati. Alangkah kecilnya semut ini.
Kalau saya menjadi semut alangkah luasnya bumi ini. Tidakkah semut ini tahu
bahwa selain batang kayu besar tempat mereka biasa naik-turun setiap hari,
tempat mereka tinggal dan tempat mereka bermasyarakat dan mencari makan ini
masih banyak pokok kayu yang lain?. Ada yang lebih besar dan ada yang lebih
kecil. Disana juga ada kehidupan. Ada banyak semut lain yang hidup disana. Dan
juga di sela-sela rekahan tanah, dibalik tumpukan kayu dan dedaunan ada juga
semut-semut di sana. Tidakkah semut ini tahu bahwasanya ada banyak lagi semut
yang tingal di rumah, di desa, di kota
dan lainnya? Tidakkah mereka tahu bahwa ada lagi pulau yang lain, benua
yang lain, bulan, planet dan bintang yang lain. Apa-apa saja yang ada dalam
pikiran dan hati semut itu? Alangkah kecilnya semut ini.
Manusia adalah makhluk yang punya rasa ingin tahu.
Disepanjang hidupnya manusia selalui ingin mengerti tempat dia berada. Manusia
selalu ingin tahu dari mana kehidupan ini berasal, bagaimana mekanismenya dan
bagaimana akhirnya. Sebut sajalah sejak zaman Aristoteles, walaupun pendapat
nya itu sudah tidak valid lagi di zaman sekarang ini. Mula-mula ia mengatakan
benda yang lebih berat jatuh lebih cepat ke bumi. Kemudian ia mengatakan bumi
ini adalah pusat perputaran benda-benda langit (geosentris). Ternyata tidaklah
demikian adanya . Semua benda-benda jatuh ke bumi dengan percepatan yang sama
besarnya.Dahulu kala orang juga beranggapan bahwasanya bumi ini adalah datar
seperti meja. Sulit memang dibantah . Tukang bangunan juga memanfaatkan ini untuk
mengukur level kayu atau batu bata yang akan dipasang dengan memakai selang berisi
air. Oleh karena itu, orang-orang dahulu kala takut berlayar jauh-jauh ke
tengah lautan. Karena takut jatuh di tepi dunia yang tidak diketahui.
Seiiring dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi
diketahuilah bahwasanya bumi ini bulat seperti bola. Bumi ini ternyata adalah
salah satu planet yang mengitari matahari (heliosentris) dalam satu keluarga
yang disebut tata surya. Ternyata tata
surya itu sendiri hanyalah salah satu sistim planet yang berada di pinggiran
galaksi Bima Sakti. Galaksi itu sendiri juga tidaklah satu. Ada sekitar seratus
milyar galaksi. Di dalam satu galaksi ada lebih kurang seratus milyar benda-benda
langit yang lain seperti bintang, planet, bulan, quasar, asteroid, meteor. Ada
pula pulsar, lubang hitam, bintang netron dan lain-lain. Kalau cuaca di malam hari lagi cerah cobalah
lihat ke langit atas. Ada banyak bintang-bintang kecil di atas sana. Demikian
juga bumi kalau dilihat dari bintang, bumi juga akan terlihat kecil seperti bintang
kecil. Galaksi itu sendiri ternyata juga bergerak. Ia bergerak saling menjauh
satu sama lain. Semakin jauh ia semakin cepat ia bergerak. Artinya alam semesta
ini mengembang (expanding). Sering
dibuatkan contoh seperti ini. Ambillah sebuah balon. Buat bulatan-bulatan kecil
di permukaannya dengan spidol. Lalu tiuplah balon itu. Maka bulatan-bulatan
tadi akan bergerak saling menjauh. Atau ambillah sebuah roti mentah. Masukkan
ke dalam oven. Setelah beberapa saat roti itu akan membesar. Artinya jarak
antara titik-titik dalam roti itu bertumbuh. Demikianlah kenyataan jagad raya
saat ini.
Kenyataan galaksi-galaksi itu bergerak saling menjauh di
temukan oleh Edwin Hubble di tahun
1929 dengan menggunakan teleskop raksasa 100 inch di Gunung Wilson,
Calfornia. Ia mengamati gerak galaksi
dengan menganalisa spektrum cahaya yang dipancarkan. Sebagian spectrum cahaya
itu mengalami pergeseran merah. Ini mengingatkan pada efek Doppler. Jika kita mendengar
derum suara mobil semakin lambat, itu berarti mobilnya semakin jauh. Demikian juga spectrum cahaya. Jika mengalami
pergeseran merah berarti sumber cahaya atau pengamatnya menjauh. Bila mengalami
pergeseran biru artinya sumber cahaya atau pengamatnya mendekat. Albert
Einstein sendiri tidak percaya bahwa alam semesta ini mengembang. Sehingga ia
menambahkan konstanta kosmologi pada persamaan relativitas umumnya, untuk
membuat alam semesta ini statis. Dikemudian hari ia mengatakan “konstanta
kosmologi adalah kesalahan terbesar didalam hidupnya”.
Kalau saat ini galaksi
saling menjauh satu sama lain, tentu mereka dahulunya berdekatan. Lebih dulu lagi
tentu mereka lebih dekat. Ya. Semua galaksi dulunya berasal dari satu titik
tunggal. Artinya ruang, waktu, materi dan energy berada dalam satu titik
tunggal (singularity). Kemudian
meledak sangat hebat sekali (big bang).
Cobalah buka Al Quran, surat Al Anbiya 30. “Dan
tidakkah orang-orang kafir itu tahu bahwasanya langit dan bumi ini dahulunya
satu,kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan semua yang hidup dari
air. Mengapakah mereka tidak beriman”
Lalu bagaimana nasib akhir jagad raya ini? Apakah ia akan
mengembang selamanya…?
Ada 2 kemungkinan.
1. Alam semesta mengembang perlahan-lahan, lalu mencapai
titik maksimum. Kemudian ia akan jatuh kembali, menciut menuju titik semula
karena ditarik oleh gravitasi masing-masing galaksi (big crunch), penciutan hebat. Hal ini persis seperti anda
melemparkan bola ke atas. Setelah mencapai tinggi maksimum maka bola itu akan
jatuh kembali ke bumi. Kalau anda
menembakkan roket ke ruang angkasa maka ia harus punya kecepatan minimal
tertentu supaya lepas dari pengaruh gravitasi bumi.
2 Alam semesta terus mengembang selamanya. Bintang,
matahari dan galaksi menggunakan semua bahan bakar nuklirnya sampai habis, kemudian menyusut menjadi lubang hitam (black hole). Jagad raya akan menjadi dingin, gelap dan membeku,
serta semua kehidupan akan berakhir
Lalu kemungkinan mana yang menggambarkan alam semesta kita? Apakah alam
semesta akhirnya menciut
kembali, ataukah ia akan mengembang selamanya? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus tahu terlebih dulu kecepatan pengembangan dan kerapatan (density) alam semesta saat ini. Jika
kerapatannya lebih kecil dari nilai
kritis tertentu, yang ditentukan
oleh kecepatan ekspansi, maka gaya tarik gravitasi
terlalu lemah untuk menghentikannya. Namun jika kerapatannya lebih besar dari nilai kritis, maka suatu saat nanti gravitasi akan
menghentikan ekspansi dan alam semesta akan menciut kembali.
Kita dapat menentukan kecepatan ekspansi dengan
mengukur kecepatan galaksi lain yang
bergerak
menjauhi kita, yaitu dengan menggunakan
efek Doppler. Ini dapat dilakukan dengan sangat akurat. Namun, jarak ke galaksi
sangat tidak dikenal karena kita
hanya dapat mengukurnya secara tidak
langsung. Jadi yang baru diketahui saat ini adalah alam semesta mengembang antara 5 persen dan 10
persen setiap satu milyar tahun. Pengetahuan kita mengenai
kerapatan alam semesta saat ini juga
masih sangat minim. Dari hasil pengamatan galaksi yang terlihat diperoleh density alam semesta sebesar 1 x 10-31 g/cm3 . Ini
angka yang sangat kecil sekali. Seandainya dijumlahkan semua massa
bintang yang terlihat di galaksi Bima Sakti dan juga di galaksi-galaksi lain, masih kurang dari
seperseratus jumlah yang dibutuhkan
untuk
menghentikan pengembangan, bahkan untuk
perkiraan kecepatan ekspansi yang paling rendah sekalipun. Oleh karena itu, galaksi kita
dan galaksi lain harus berisi sejumlah “materi gelap” yang tidak dapat dilihat langsung, tapi harus ada karena pengaruh
gravitasinya pada orbital bintang di galaksi. Selain itu, umumnya galaksi ditemukan berada dalam cluster. Kita juga dapat menyimpulkan terdapat
lebih
banyak materi gelap di antara
kelompok galaksi ini karena pengaruhnya
terhadap pergerakan
galaksi.
Juga apabila kita jumlahkan
semua
“materi gelap” ini, kita baru mendapatkan sekitar sepersepuluh dari yang diperlukan untuk menghentikan pengembangan. Oleh karena itu, boleh jadi ada materi bentuk
lain yang belum diketahui yang terdistribusi seragam di seluruh alam semesta. Materi ini akan memperbesar kerapatan sehingga mencapai nilai kritis yang dibutuhkan untuk menghentikan
ekspansi. Namun, bukti-bukti yang
ada saat ini memperlihatkan bahwa alam semesta akan mengembang selamanya. Tetapi kita tidak dapat mengabaikan
kemungkinan lain bahwa alam semesta ini akan menciut kembali, yang
akan
terjadi setidaknya sepuluh milyar tahun lagi, karena ia telah mengembang setidaknya
selama itu.
Menurut ilmu pengetahuan, kiamat adalah suatu hal yang pasti
terjadi.
Merenungkan asal mula dan nasib akhir alam semesta akan membuat kita
menjadi kagum,
takut, heran, hormat, tunduk, patuh, pasrah dan gembira sekaligus penuh
harap kepada Tuhan yang kita cintai. Cobalah buka kembali Al Quran.
Berulang-ulang kali diinformasikan
di dalamnya. Bahwasanya langit ini kelak akan dilipat, dibagian lain
disebutkan
akan digulung. Persis seperti asal mula penciptaaannya. Ini adalah
bahasa Al
Quran. Saya berpendapat “dilipat “atau “digulung” itu artinya big crunch (penciutan hebat). Laporan
terakhir dari NASA baru-baru ini memberitahukan, foto-foto hasil pemotretan berbagai sudut
langit yang diambil dari satelit kemudian direkonstruksi. Hasilnya adalah geometri langit ini berbentuk seperti
terompet. Cobalah ingat salah satu Hadist dari Nabi SAW. Bahwa malaikat Israfil
saat ini dalam keadaan sudah ready,sudah stand by. Siap melaksanakan perintah meniup
sangkakala.
Ada tiga kali tiupan.
1.
Tiupan pertama sebagai pemberitahuan. Artinya
kiamat sudah datang. Maka terkejutlah semua penghuni langit dan penghuni bumi.
2.
Tiupan
kedua. Semua yang bernama makhluk hidup akan mati. Manusia, hewan, tumbuhan,
jin, setan, iblis (laknatullah) dan malaikat akan mati. Malaikat maut dan
malaikat Israfil sendiri juga akan mati.
3.
Tiupan
ketika. Kebangkitan. Manusia akan dihidupkan kembali untuk mempertanggung
jawabkan semua amal perbuatannya di dunia yang fana ini.
Umur alam semesta (universe) lebih
kurang 13,7 milyar tahun. Umur tata surya (solar
system) 5 milyar tahun. Kehidupan
pertama di muka bumi berasal dari air, yaitu hewan bersel satu (monocell). Makhluk ini kemudian
berevolusi menjadi ikan-ikanan, amphibi yang kemudian terus naik ke darat. Lalu
ia berproses dan berkembang terus sehingga menjadi hewan mamalia, unggas dan
lain-lainnya. Nabi Adam turun ke bumi sekitar 200.000 tahun yang lalu, yang
terus berkembang biak menjadi milyaran jumlahnya sampai saat ini, untuk menjadi
khalifah atau pengelola dimuka bumi.
Lantas kapan langit itu akan runtuh, kapan matahari itu akan padam?
Masih lama lagi. Yang duluan runtuh adalah langit-langit yang ada dalam mulut
kita ini. Anggaplah umur manusia 100 tahun dengan berat 100 kilogram.
Dibandingkan dengan alam semesta,umur dan berat kita sangat singkat dan kecil
sekali.Sewaktu lahir kita disambut dengan azan, sewaktu mati dilepas dengan
sholat. Antara azan dengan sholat. Paling lama cuma 15 menit. Singkat sekali, kecil
dan lemah. Rasanya lebih kecil dari semut. Semakin banyak kita tahu semakin banyak yang kita tidak tahu. Sungguh
Maha Penyantun dan Maha Pemurah Allah SWT. Dia
mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim…
Jadikanlah umur terbaik hamba di
penghujungnya.
Jadikanlah amal terbaik hamba di penutupnya.
Jadikanlah hari-hari terbaik hamba saat
bertemu dengan Mu…
Wallahu’alam bissawab…
Bersambung….
Edriandi
Sarawak 4 May 2013
Source
http://groups.yahoo.com/group/teknik-nuklir/message/13080
Subscribe to:
Posts (Atom)







